Tiwul, Penganan Lintas Zaman

Hai teman-temanku yang manis, aku mau berkisah tentang tiwul, nih. Simak yaa…

Pada zamaaaan dahuuuluuuu… (*maap, kebanyakan nonton pilem kartun)

Dulu di sini sudah pernah aku postingkan mengenai tiwul. Silakan dah diubek-ubek postingan lama tentang si Tiwul. Kali ini masih pengen mengangkat tema dunia persilatan pertiwulan.

Aku kenal tiwul ya di Solo. Kalau di daerahku, negeri kebumen sana, namanya bukan tiwul, tetapi inthil. Nama yang lucu ya. Apapun namanya, bahan dan cara pembuatannya sama. Dan tentu saja sama-sama enak. Saking kangennya sama tiwul, bau semerbak bunga kuning pohon Angsana yang gugur di negeri UNS bisa-bisanya beraroma tiwul (ada yang salah dengan ini hidungku kali ya?). Benar-benar menjadikanku semakin merindukan tiwul, makanan yang sudah belasan tahun aku tidak melahapnya. Terakhir aku menikmatinya saat masih SMP (saat masih puber) sampe sekarang sudah SMT (semi tuwo). Hihihi…

Eits, tunggu dulu. Aku belum mengisahkan kenapa aku mengambil kisah tentang si tiwul ini. Jadi, ceritanya, aku tuh sukaaaa banget sama tiwul. Dan kebetulan ibu mertuaku beberapa bulan yang lalu mulai menambah dagangannya yaitu si tiwul manis. Kebayang dong rasanya makan tiwul anget-anget yang baru diangkat dari panci kukusan. Uapnya masih ada kebul-kebul, taburan parutan kelapa yang gurih, masih aku tambah sepucuk sendok gula pasir, hmmmm… rasanyaaa…. endaaang bambaaaang. (translate: endang bambang = uenak byanget)

*sebentar ya, aku mau ambil tiwulnya dulu. Baru mateng. (tengok jam di dinding 04:24)

Ini penampakannya.

DSC02685

Ibu biasanya menjajakan tiwulnya dengan dibungkusi daun pisang dan dihargai lima ratus rupiah. Masih aja eksis dagangan seharga limaratusan ya? Maklum ibu biasa berjualan di area kampung sekitar rumah. Gawok adalah negeri yang masih asri penuh dengan pepohonan dan persawahan serta beberapa pabrik dan perumahan. Jadi masih sangat mungkin ditemukan jajanan murah. Kalo dijual mahal-mahal nggak laku, bo!

Selain ibuku, sekarang kita bisa lebih mudah menemukan si tiwul manis ini di area car free day, Sunday morning UNS, Manahan Sunday Market (jik enek ora yo?), dan di daerah Butulan Makam Haji (Dari Solo turun di underpass, belok kiri ke arah Gawok, di tikungan pertama ada dua gerobak penjual tiwul dan kawan-kawannya macam cenil, gethuk, klepon, sawut dll). Pernah beli di situ, harganya murah koq. Tinggal bilang: “Bu, tumbas niki, niki, niki, gangsal ewu.” Mengulurkan selembar lima ribuan sambil tunjuk aneka jajanan lawas.

Tiwul itu beneran penganan tempoe doeloe. Bapakku pernah cerita, jaman masih penjajahan Jepang, tiwul menjadi makanan sehari-hari. Adanya di kebon cuma singkong, jemur, tumbuk dan jadilah tiwul pengganti nasi. Kali terakhir aku makan tiwul itu juga dapet oleh-oleh dari mertua mbakyu yang tinggal di pegunungan Sempor, dan tiwul nasi bukan tiwul manis. Tentang tiwul nasi, jadi ingat sama teman kantorku yang berasal dari Weru Sukoharjo. Konon di sana juga masih ada yang makan tiwul nasi.

Noh, eksis banget ya si tiwul. Bener-bener lintas zaman walaupun keberadaannya sudah mulai terancam kepunahannya.  Sepertinya perlu ada suaka marga jajanan untuk menyelamatkan keberadaan jajanan tempo dahulu.  Hhmmm, jadi pengen bikin resto yang menunya jajanan jadul. *ngimpi siik…

Jadi, pesan sponsornya, mari kita lestarikan bumi kita, meliputi alam, hewan, tumbuhan, budaya dan tentu saja makanan. hihihi…