Menghapus Delta Search di New Tab Mozilla Firefox

Siang yang sumuk ini paling asyik leyeh-leyeh di depan kipas angin sambil nyawang gaweyan di monitor kantor. Tiba-tiba datanglah mbak Anis yang manis menghampiriku.

“Ul, Firefox-ku njedul Delta-deltane.” Keluh Mbak Anis.

“Lha bar mbok instali opo mbak?”

“Ora taq apak2ke, suwer. tapi wingi bar dinggo Mas Doni”

Yowis, akhirnya saya yang sebenarnya tidak tau asal muasalnya itu kenapa, demi nglegani mbak Anis, aku beranjak dari kursiku yang tidak empuk menuju komputernya. Sambil berpura-pura sok tau aku klik sana sini. Cek settingan Firefox,  cek Add On, cek Control Panel, tetep itu Delta nggondeli Firefox.

“Neknu di-install ulang wae mbak Firefox-e” kataku pasrah.

“Diinstalke sisan ya, Ul. Aku ora mudeng” Halllah..

Ambil master Firefox di server dilanjutkan dengan menguninstal dan menginstal kembali. Klak klik klak klik klak klik

dan taraaaaaaaaaaaa…..

TIDAK BERHASIL

yowislah, mangkat ke rumah simbah dulu. ternyata ada banyak yang sudah ketemu sama si delta-delta ini. Salahsatunya dari http://info.delta-search.com/uninstall/firefox. Oke, print wae langkah-langkahnya. Mbak Anis masih setia menungguku. dan merelakan tisyunya aku ambil terus-terusan buat lap hidung gatel. *maap mbak, masih meler dan batuk ini.

Lanjut mbersihi delta-delta.

1. Pastikan segala sesuatu yang berbau delta-delta telah musnah dari muka bumi, eh, dari komputer maksudku. Cek di Control Panel dan pengaturan firefox. *done

2. Selanjutkan bersihkan delta-delta homepage dengan langkah-langkah sbb. *kopas wae

  1. Open Mozilla Firefox
  2. From the Firefox orange button (or from the standard Tools menu), select Options.
  3. In the General tab, delete the Delta URL from the Home page text box.
  4. Click OK to save the changes.
  5. Type: about:config in the address bar and press enter
  6. Confirm the message.
  7. Type: browser.newtab.url in the Search text field
  8. Right click on the result and select Toggle (or Reset in older versions)

3. cek New Tab.

Berhasil.

Oiya, delta-delta ini ngisruh2i di bagian toolbar, homepage, search dan lain-lain. Jadi tampilan default yang sudah kita atur di setting firefox dulu akan berganti dengan delta-delta.

*postingan ini hanya untuk mengingat-ingat jika kelak nemu delta-delta yang lain.

Advertisements

NIkmatnya Hamil Berbonus Kista

a

Didiagnosa ada kista berdiameter 6,7 cm di USG pertama kehamilan pasti akan membuat siapa saja terkejut. Termasuk aku. Ya, saat sore itu aku berkunjung ke dokter kandungan untuk meyakinkan diri bahwa aku memang hamil. Benar, aku hamil. Ada kantung janin bersemayam di perutku. Dan dokter memberiku bonus kista sebesar itu. Aku tidak pernah menyadari ada bola kecil tumbuh di tubuhku. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya atau aku mengabaikannya karena terlalu sibuk bergelut dengan waktu dan pekerjaan.

Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kuasaku menerimanya. Kepercayaan kepada-Nya memberikan secercah keyakinan dan kekuatan.  Aku dan anakku pasti bisa bersama melawan kista. Hanya saja impian melahirkan normal sudah sirna, dokter dan bidan tidak berani bertaruh dengan nyawa anakku dan nyawaku sendiri.

Kista terus dipantau selama kehamilan. Sayangnya di trimester kedua, kista bersembunyi di belakang janin. Beruntung kata dokter, kista tidak mempengaruhi perkembangan janinku. Hanya saja saat si kecil menendang, ada kalanya terasa sangat nyeri. Mungkin si kecil menemukan bolanya di dalam sana.

Masuk usia kehamilan 8 bulan, baju-baju dan perlengkapan bayi sudah aku beli. Cuti hamil masih belum aku ajukan. Pekerjaan kantor masih menumpuk, aku tidak mau meninggalkan beban untuk rekan-rekanku. Aku masih lembur sampai senja menjelang.

Juga sore itu.

Jam enam sore aku baru keluar dari kantorku. Pulang naik motor sendiri masih akrab denganku. Dengan ekstra hati-hati tentunya. Sesampainya di rumah, aku temui ada flek saat aku mandi. Ah, mungkin hanya kecapekan. Tapi, suami segera memintaku periksa ke bidan. Setelah maghrib kami mendapat berita  yang membuat suami melongo. Sudah pembukaan 1.  Padahal usia kehamilan baru 8 bulan, kontraksipun belum ada (*atau aku yang ndableg karena terbiasa meringis saat si kecil sedang bermain bola di perut). Bidan segera menghubungi dokter kandungan koleganya. Dan aku dirujuk ke rumah sakit tempat sang dokter berada.  Malam itu juga.

Masuk rumah sakit, suami dan mertua sibuk menurunkan bawaan. Aku melenggang santai ke UGD. Perawat melongo melihat ada ibu perut buncit masuk UGD membawa surat rujukan melahirkan untuk dirinya sendiri. Mendaftar pasienpun kulakukan sendiri, kali ini petugas pendaftaran bingung, lihat ada pasien mendaftarkan dirinya sendiri, untuk operasi pula. Beruntung suami segera datang.

Hampir tengah malam, aku didorong masuk ke ruang operasi.  Aku sudah pasrah atas kehendak-Nya. Sadar dengan kondisiku, terpikir olehku kematian akan mendatangiku. Hanya satu permintaanku, jika memang ini hari terakhir aku hidup di dunia, ijinkan aku melihat anakku sebelum nyawa lepas dari raga.

Aku masih merasai kehilangan kontrol atas separuh tubuhku, aku masih mendengar denting alat operasi dan detak suara pengukur degub jantung sampai akhirnya aku terbangun satu jam kemudian.  Perawat memberitahu bayiku berada di kamar bayi. Sehat dan montok. Alhamdulillah….

Operasi lancar, hanya saja terjadi pendarahan,  kista pecah, turunnya kadar hb dan harus segera ditransfusi darah. Kondisiku belum memungkinkan untuk menemui anakku. Baru 7 jam kemudian perawat membawa bayiku ke pandangan mataku. Biarlah orang di luar sana menghujat para ibu yang memilih SC daripada melahirkan normal. Aku tetap menjadi ibu, sama seperti ibu yang lainnya. Ibu dari anakku.

Curahan Hati Penikmat Online Shop (Giveaway Susindra III : Online Shop)

“Harga tas wanita antara range 200-400 ada, Sis?”

“Silakan cek di album tas kami. Sudah ada deskripsi dan harganya”

“Ada yang recomended nggak, Sis”

“Silakan cek foto di album kami. ”

“Saya butuh saran nih, Sis. Saya ingin tahu tas yang berkualitas.”

“Setiap tas berbeda bahan, model dan harga, silakan dicek mana yang sesuai dengan Anda.”

“Kan saya sudah bilang saya nggak mudeng tas yang bagus.”

“Deskripsi tiap model dan gambar saya rasa sudah jelas ada di masing-masing gambar tas di album.”

“Sis, saya itu lelaki. Ini mau beli tas buat istri saya. Wajar dong saya minta saran Anda sebagai pemilik OS yang lebih mengetahui kualitas tas dan model yang disukai wanita. Kalau cuma lihat model, bahan dan harga saya bingung lah. ”

“Maaf saya sibuk dengan pelanggan yang lain, silakan Anda memilih sendiri. ”

“&%$##%&^%$*…”

(*kisah ini hanya fiktif belaka)

 

Memang pasar online menjanjikan kemudahan-kemudahan kepada pembelinya yang konon tinggal klik klik klik semua beres, tetapi ada pertimbangan-pertimbangan juga lainnya yang menjadikan kami, para pembeli, enggan berbelanja di online shop. Tentunya Anda tidak ingin kami tidak mengunjungi toko Anda, kan?

Sebagai salah satu penikmat online shop (*walau jarang beli) semoga suara saya ini mewakili para penggemar online shop lainnya.

Kemudahan Komunikasi

Benar, dalam segala hal komunikasi menempati urutan yang penting. Komunikasi yang baik antara penjual dan pembeli akan memuluskan transaksi. Pernah saya belanja online, tapi sayang, sang pemilik menjawab setiap pertanyaan dengan judes dan pendek-pendek (*mungkin sedang pms). Padahal barang yang dijual beliau adalah barang yang sangat-sangat saya butuhkan. Tapi baru banya-nanya awalnya saya sudah nggak enak di mata (*karena baca tulisan chat) maka saya memilih mundur. Felling saya ini penjual tapi koq tidak enak diajak komunikasi, bakalan repot nanti kalau sudah sampai acara transfer uang dan barang. (*trauma kena tipu)

Display yang menarik dan sesuai real barangnya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia terbiasa dengan offline shop atau toko pada umumnya. Walau sedikit capek dan tersita waktu, tetapi di toko biasa kita bisa mengetahui 100% barang yang akan kita beli. Baju bisa kita coba, benda-benda bisa dijajal di toko. Bebeda dengan online shop. Barang yang kita lihat hanya sebatas gambar dan keterangan yang menyertainya. Kadang beda maksud dengan apa yang kita butuhkan. Ukuran, bahan, warna kadang tidak sesuai dengan gambar yang terdisplay.

Saran buat para pemilik toko online shop, tolong deskripsi dijelaskan dengan baik, biar kami para pembeli bisa memastikan barang yang kami butuhkan sudah sesuai. Kekecewaan setelah barang sampai di tangan pembeli akan mengakibatkan kami tidak lagi mau berbelanja di online shop Anda.

Harga yang wajar

Saya pernah tertawa, ketika melihat harga batik yang di pasar dijual dengan harga 25rb bisa dijual di online shop seharga 60 ribu. Memang benar, setiap penjual berhak menentukan harga yang akan dipasang, tetapi realistis akan lebih menyenangkan. Coba Anda bayangkan ketika barang yang Anda jual sudah sampai di tangan pembeli dan pembeli tahu bahwa barang Anda sekelas 15ribu kualitasnya. Tentu, kami tidak akan membelinya lagi kepada Anda. (*kapok)

 

Pembeli adalah raja, itu dulu, sekarang penjual adalah raja. Di negara online shop kalimat ini berada. Mengapa aku mengatakan demikian? Pembeli yang akan rempong memulai memilh penjual yang bonafid, memilih barang yang ajegile banyaknya, mentransfer harga dan sekaligus ongkos kirim. Ongkos kirim ditanggung pembeli, biasanya, walaupun kadang ada free ongkos kirim (*untuk item tertentu)

Penjual hanya duduk manis di belakang gadget, menjawab mencatat dan megirimkan barang, setelah harga sudah ditransfer. Di beberapa online shop ada yang bisa di COD- Cash On Delivery, tapi mayoritas memilih transfer dulu baru barang dikirim.

Satu lagi tentang online shop. Ada quote lebay dari saya “testimoni adalah segalanya”.

Ya, testimoni lewat mulut ke mulut jauh lebih ampuh daripada koar-koar di segala media sosial. Bayangkan, jika toko Anda sudah terkenal kelas jempolan, maka orang akan dengan mudah mengatakan “Beli di sana saja, kemarin aku baru beli. Pelayanannya bagus, barang-barangnya berkualitas dan kita tidak perlu khawatir, penjualnya baik. ” maka seluruh penjuru dunia akan mendatangi Anda (*lebay sedikit tidak apa-apa ya)

Dan bayangkan jika pembeli Anda mengatakan “Jangan beli di toko itu soalnya begini begini begini begitu…” dan tidak ada seorangpun yang akan mendekati Anda. Percayalah “The Power of Testimoni” besar pengaruhnya untuk keberlangsungan usaha Anda. So, jadilah penjual yang menyenangkan, kamipun akan menjadi pembeli yang menyenangkan, akan kembali datang, datang dan datang kembali.

Salam dari saya,

Penikmat online shop

 

Nb: saya melepaskan tiket Workshop MICE & BUSINESS EVENT, karena negeri saya cukup jauh dari negeri Batavia.

🙂

 

Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway Susindra III : Online Shop

banner GA susindra III

 

 

 

 

 

 

tiwul dan taperwer

DSC01453

Ibu mertua saya penjual makanan dengan model tenongan.Jika Anda berdomisili daerah Soloraya pasti mengenal tenongan. Ya, penganan siap makan ditempatkan dalam tenong, dulunya, tapi sekarang jaman sudah maju, dan tenong semakin susah dicari. Jadi, ibu menempatkan barang dagangannya di keranjang plastik.

Ibu jualan keliling besepeda tiap pagi ke desa-desa sekitar . Jajanan ibu bermacam-macam dari nasi ketan, nasi kucing, mihun, jenang lemu dan tiwul. Nah tiwul inilah yang akan saya ceritakan.

Tiwul itu makanan khas wong gunung. Ya, tiwul biasanya dikonsumsi oleh masyarakat pegunungan yang notabene tidak bisa bertanam padi. Bisanya ya tanam singkong. Nah singkong inilah nanti akan bermetamorfosis menjadi tiwul. Cari di google saja yah penjelasan pembuatan tiwul.

Di tempat asalnya sana, tiwul menjadi pengganti nasi. Tapi di kota, tiwul menjelma menjadi panganan langka yang diburu orang. Sudah nyarinya, bro…

Tiwul itu istimewa. Eksistensinya sejak jaman Belanda menjajah sampai sekarang masih saja ada. Jika dulu tiwul dikonsumsi demi mempertahankan hidup, sekarang tiwul dicari demi mendapatkan eksistensi di dunia maya . Sungguh, posting foto tiwul itu lebih banyak yang komentar daripada posting foto steak. Tanya mengapa.

Menyambung ke dunia maya, kemarin saya meng-upload postingan tentang tiwul yang ditempatkan di tempat makan yang kata orang ekslusif dan berkelas. Benda yang saya maksud bermerek taperwer. Taperwer ini sebenarnya hanya berasal dari plastik biasa. Mungkin karena berasal dari negeri Amerika Serikat jadinya meninggikan kastanya dan harganya. Mahal. Beneran mahal. Memang benar sih, kualitas membawa harga. Ada merek yang lebih mahal, tapi si tupy ini cukup mahal bagi kantong cekak macam saya ini. Dan ibu-ibu merasa pamornya naik kalau bawa makan siang dengan wadah ini. Tidak termasuk saya lho ya. Saya dulu beli tupy ini juga karena kepepet pengen beli tempat makan untuk si bayi. Karena bayi saya sudah gede, jadi giliran emaknya memakai tupy ini buat bekal dibawa ke tempat kerja. Dan tidak tanggung-tanggung, isinya tiwul.

Sungguh tiwul dan taperwer ini bagai bumi dan langit, bagai kasta sudra dan ksatria, bagai bangsawan dan rakya jelata, dan aneka perbandingan lain yang menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dan saya cukup berbangga hati berhasil menyandingkan dua kasta ini dalam satu balutan cinta. Cinta kepada saya, kepada perut saya.

Apa setelah tiwul bersanding dengan taperwer akan berbeda rasa? Menjadi lebih enak misalnya. Atau taperwer yang mahal itu akan menjadi murahan karena ditempati tiwul? Tidak ada yang berubah dari keduanya. Tiwul tetap menjadi tiwul dengan segala kendesoannya, dan taperwer tetap menjadi taperwer dengan segala kelasnya.

Fatih dan Semut

DSC01432

Fatih sama seperti para balita berumur dua tahun yang lainnya. Anak pertama kami ini sedang aktif-aktifnya bereksplorasi di dalam rumah maupun di luar rumah. Tidak heran banyak kalimat-kalimat baru hasil inisiatifnya dan tentu saja keajaiban-kejaiban muncul dari perilakunya.

Sore itu Fatih sedang menikmati cemilan roti bolu. Kali ini tidak hanya memakannya tetapi roti bolu itu diremuk kecil-kecil dan disebar ke beberapa tempat bermainnya.

“Fatih, kok rotine disebar-sebar ngono? Kan roti kuwi dinggo dimaem? Ndak marai okeh semut.”

Di luar dugaan saya, Fatih menjawab dengan sangat enteng. Khas anak-anak.

“Ibu, yotinya nggo cemut. Ben cemute meyu maem. Ben cemute cepet jede. ”

Walaupun masih belum fasih berkata-kata, Fatih sudah mulai mampu merangkai kalimat sederhana. Roti miliknya memang sengaja disebar agar dimakan oleh semut. Biar semutnya cepat gede katanya.(*haisshh tih tih...)

Selama ini memang setiap mau makan, saya membujuk Fatih salah satunya makan biar cepet gede. Bagi Fatih menjadi gede adalah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Boleh naik sepeda mini, boleh mainan gunting ibunya, boleh memotong sayur dengan pisau dapur dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang sementara masih ditunda diberikan untuk masa sekarang ini. Memang belum waktunya Fatih bermain seperti itu. (*tunggu masanya ya, sayang)

Sejauh ini bujukan itu berhasil. Dan sepertinya Fatih juga menginginkan semut-semut yang kecil itu segera menjadi gede. Tentu saja Fatih belum memahami bahwa semut memiliki ukuran tubuh tertentu. Ada waktunya nanti menjelasakan tentang dunia semut. *ibu taq tuku bukune sik

Selain menerapkan konsep makan untuk tumbuh menjadi besar, pelajaran berbagi yang saya ajarkan kepada Fatih sepertinya sudah mulai tersimpan dalam memorinya. Sebelumnya, Fatih seorang yang over protective atas harta kepemilikannya. Ada teman yang menyentuh mainan atau makanannya maka akan terjadi perseteruan yang pasti berbuah tangis di salah satu anak, atau bahkan keduanya. *tirun mboke opo pakne yaa...

Dan kini Fatih mulai bisa berbagi, walau dengan semut. Semoga setelah ini, Fatih mau berbagi dengan teman-temannya. *aamiiinn...

Kisah Fatih dengan semut bersambung ketika Mbahuti Fatih melihat serombongan semut sedang bermigrasi. Dengan sigap Mbahuti mengambil sapu dan menghalau semut-semut keluar rumah. Fatih yang melihatnya malah menangis. *lha koq?

“Fatih, ngopo koq nangis?”

“Ibu, cemute mesakkeh. Dicapu Mbahuti mengko ndak cemute mati. Ojo dicapuuu, Mbaaaahh…..”

Ketika sebelum-sebelumnya Fatih hobi mengejar semut kemudian membunuhnya, kini Fatih sudah mulai berwelas asih dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. *(y)

Tidak mudah mengajari makna kasihan kepada balita dua tahun ini. Tapi sejalan dengan perkembangan pola pikirnya, Fatih tahu kapan dia siap dengan makna-makna kata yang diajarkan oleh bapak ibunya. Kami tidak memaksa, biarkan tetap berjalan alami. *yupp...

Kami, para manusia dewasa, kembali belajar bersama si kecil untuk kembali belajar menyayangi makhluk hidup dan tidak membunuh mereka.*selfplak!

Ibuuuuu… Nyamuke nakay!” Fatih menggaruk pahanya yang bentol merah.

Wah, kalau sama nyamuk ibu dan Fatih tetap tega membunuhnya.

Hihihi…

Di Friendlist Facebookku Ada Istri Kekasihku

a

Namanya Puspa. Nama yang cantik, secantik orangnya. Walau aku belum pernah menjumpanya, tapi sedari dulu kami terhubung lewat media facebook. Kala itu aku masih jaman alay, bikin akun facebook karena punya kekasih yang bikin akun facebook baru. Biar kami tetap terhubung dengan dunia maya, maksudnya. Maklum aku dan kekasihku tinggal di kota yang berbeda. Langit yang menautkan hati-hati kami. Dan adanya facebook ini juga menambah dekat hubungan kami.

Ada nama Puspa di friendlist facebooknya. Teman. Begitu kekasihku menjawab tanyaku. Dan teman kekasihku itu meng-add aku. Tentu saja aku terima. Aku senang berkenalan dengan teman-teman kekasihku. Hubungan aku dan Puspa baik-baik saja hingga suatu ketika Puspa mengatakan bahwa dia menyukai kekasihku. Sedikit cemburu, tapi aku persilahkan saja. Aku tidak punya hak untuk melarangnya. Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku kekasihnya, tapi urung aku lakukan. Ah, biarkan kekasihku yang melakukannya.

Ternyata urungnya niatku itu malah membawa malapetaka untukku. Kekasihku tidak mengenalkanku sebagai kekasihnya. Aku ketahui itu ketika suatu siang aku temukan sederet email mesra terkirim kepada Puspa. Mereka sudah berpacaran sejak setahun sebelum Puspa berkenalan denganku. Maka akupun tahu diri untuk pergi. Tetapi kekasihku menahanku, dan meminta mengulangi lagi kisah kami dengan awal. Dengan mudahnya aku terima. Dengan persyaratan tidak ada lagi Puspa diantara kami. Aku juga dilarang untuk berhubungan dengan Puspa.

Setahun berlalu, facebook kembali mempertemukan aku dengan Puspa. Puspa ingin mengajakku bicara. Sejatinya Puspa mengkhawatirkan keadaanku setelah aku dicerai oleh kekasihku. Aku tidak mengira, kembali terhubungnya kami membawa berita yang begitu buruk. Untukku maupun untuknya. Kami memiliki kekasih yang sama.

Kali ini aku benar-benar lelah. Dan aku putuskan menghilang dari peredaran keduanya. Mereka menikah 6 bulan kemudian.

Lagi-lagi memang Facebook yang menjodohkan kami. Puspa menggunakan akun kekasihku untuk add aku kembali setelah sebelumnya aku telah diremove kekasihku. Aku memang tidak memblokir akun mereka. Buat apa? Mosok segede ini ikut-ikutan macam bocah alay yang baru putus cinta main blokir akun.

Aku menolak berteman Puspa melalui akun kekasihku. Add dengan akunmu sendiri, akun yang telah memblokirku. Puspa menyetujui. Kami kembali berteman di facebook.

Apa harus menjadi marah kepada orang yang telah memblokir akunku dan kini menjadi istri kekasihku? Ah, tidak. Keadaan tidak akan berubah dengan marah-marah sepanjang jaman. Keadan tidak berubah dengan mendiamkan satu sama lain. Tidak akan berubah sedikitpun.

Kami berteman karena kami sama-sama wanita, kini sama-sama seorang istri dan sama-sama seorang ibu. Di urusan ini saja kami berbincang. Tentang lelaki yang dulu kekasihku? Itu urusan Puspa bukan urusanku.

Setidaknya, berteman dengan Puspa, kembali merajut silaturahmi yang sempat terputus karena kelakuan kekasih kami. Kami tidak hidup dalam dunia sinetron yang terus memaki dan dendam membara dalam dada. Tidak perlu ada kisah tentang perebutan lelaki. Tidak perlu itu semua. Lelaki itu sudah ditetapkan jodohnya oleh pemilikNya, dan aku tidak perlu menggugatnya.

Berteman dengan keseharian istri kekasihku, aku belajar banyak hal. Aku belajar memahami, aku belajar melihat, aku belajar mendengar dan aku belajar ikhlas. Juga belajar melihat segala sesuatu dari sisi orang lain, tidak hanya sisi diriku sendiri. Kebahagiaan Puspa adalah kebahagiaanku. Terdengar satir, tapi itu yang aku rasakan.

Benar kata sang pujangga. Bahagia itu ketika seseorang yang kita cintai telah bahagia, dengan kita ataupun dengan yang lainnya.

 

Tulisan ini disertakan dalam giveaway “GiveAway Indahnya Silaturahmi, Lavender Art” by mbak Irowati.