Ah Tenane “Kok Tidak Ada?”

Gara2 postingan di facebook, mbak Rifati Nasukha Luthfi

…………………………………………

Kok, Tidak Ada?

Kejadian menggelikan ini terjadi di tlatah Salatiga. Mbah Jon Koplo yang sudah cukup berumur, masih bersemangat untuk nyoblos baik pemilu maupun pilkada. Beberapa bulan ini berita pilkada tiap hari ditonton lewat televisi. Televisi jadi satu-satunya teman di rumah. Namanya juga sudah mbah-mbah, tentu saja acaranya di rumah kebanyakan nonton televisi.

Pada hari pencoblosan, mbah Jon Koplo bangun pagi. Siram sebelum subuhan. Mruput tenanan pokoke. Niatnya supaya dapat berangkat ke TPS gasik. Tidak antre terlalu lama. Setelah sarapan, beliau segera minta tolong cucunya Lady Cempluk untuk mengantar nyoblos. Lady cempluk yang masih umbah-umbah disuruh ninggal cuciannya. Nanti saja habis nyoblos, kata beliau. Lady cempluk hanya gedeg-gedeg melihat polah simbahnya.

Sesampainya di TPS, TPS masih sepi, hanya para anggota TPS yang hadir. Jon Koplo disambut oleh senyum manis Tom Gembus. Sebagai anggota TPS, Tom Gembus bertugas untuk mendampingi pencoblos yang usianya sudah sepuh. Setelah melewati prosedur pendataran, Tom Gembus mendampingi Mbah Jon Koplo sampai ke bilik pencolosan. Dan kemudian menunggu di luar bilik.

“Tom… Tom…. Le, iki kartu suarane salah!” Tiba-tiba Jon Koplo berteriak. Segera Tom Gembus  mendatangi bilik suara tempat Mbah Koplo berada.

Pripun, Mbah?”

Iki lho, kartu suarane keleru.” Tom Gembus menerima kartu suara yang dilanturkan Mbah Koplo.  Memeriksanya dengan hati-hati.

Sampun leres niki, Mbah. Sudah benar. Njenengan tinggal coblos calon yang njenengan cocok.”

“Ndak bener ini. Salah!”

“Salah pripun to, Mbah?” Tom Gembus mulai kebingungan.

“Kok kartu suarane ndak ada gambarnya Ahok, Anis sama anaknya SBY itu?”

Ngapunten, Mbah. Itu pilkada gubernur Jakarta mawon.”

“Woooo… lha tipine beritane mung kuwi!” Sambil misuh Mbah Koplo segera masuk ke bilik dan nyoblos sak senenge. Lha mau milih yang mana, wong jagoannya tidak ada.

Ealaaah Mbah… Mbah….

Advertisements

Ah Tenane “Artis Facebook”

Ah tenane ini dari kisah mbakdok yang kuweren. Mbak Vanessa Sutopo

 

  Artis Facebook

 

Gendhuk Nicole adalah penggemar kereta. Saban harinya dia langganan kereta menuju tempat bekerjanya. Seperti biasa kereta ramai di pagi hari. Daripada ngalamun Gendhuk Nicole mengambil ponselnya, buka facebook. Dia sedang gandrung baca postingan seorang dokter yg difollownya. Dokter perempuan yang ramah dan cantik. Beliau memiliki banyak penggemar. Biasanya disebut dengan artis facebook. Dokter itu juga tinggal satu kota dengannya.

 

Sang dokter sering posting hal lucu saat memeriksa pasien maupun saat medical care para karyawan maupun calon karyawan. Respon para karyawan yang lucu-lucu ketika diminta dokter melepas celana saat akan pemeriksaan ambeien maupun dicek kesehatan lainnya, ditulis menjadi status di facebook yang menggundang senyum dan tawa banyak orang yang membacanya.

 

Gendhuk Nicole ngikik-ngikik sendirian baca postingan sang dokter. Tidak sadar kalau di depannya ada wanita berkerudung yang memakai masker di depannya yang memperhatikannya. Beberapa saat kemudian kereta mulai kosong, wanita yang tadi di depannya berpindah duduk di samping Gendhuk Nicole. Beberapa kali wanita itu menoleh ke Gendhuk Nicole dan melirik ke ponsel yang sedang dibacanya. Gendhuk Nicole menyadari tapi tidak nggagas atau bahkan sekadar menyapanya.

 

Sesampainya di tempat kerja, kantor masih sepi. Gendhuk Nicole kembali membuka facebooknya. Ada postingan baru dari dokter idolanya.

“Aku pakai masker, berdiri di kereta. Mbak yang duduk di depanku lagi cengar-cengir sambil dikit-dikit nutup mulut. Pas aku duduk di sebelahnya…. Ealah dia lagi baca status-statusku. Dia nggak sadar aku duduk di sampingnya. Dia dah turun duluan tadi. Hehehe…”

Gendhuk Nicole spontan kaget. Lha blaik! Tibake tadi yang di sebelahku ibu dokter artis facebook. Asyeeem… Asyeeem… Tahu begitu tadi aku ajak selfie. Gendhuk Nicole hanya bisa mringis menyesal.

Ah Tenane – Kesregepen Umbah-umbah

*dimuat di solopos (entah tanggal berapa, nggak langganan koran. Tau dimuat karena ada wesel datang ke rumah)

*naskah asli, nggak tau yang dimuat diedit kayak apa. Penting dimuat  😀

———————

Kesregepen Umbah-umbah

 

Jon Koplo sedang bersiap-siap berangkat makaryo. Istrinya, Lady Cempluk, sedang menyiapkan sarapan bobor mbayung dan tempe bacem kesukaan suaminya. Hari ini anak lanangnya libur sekolah dan masih angler di kamar.  Jadi Lady Cempluk lebih santai, tidak mruput seperti biasanya.

 

“Pakne, sarapan sudah siap.” Panggil Lady Cempluk. Jon Koplo datang masih memakai kaos singlet, belum memakai seragam hari ini. Sumuk, katanya. Sambil nemeni suaminya sarapan dan ngobrol ngalor ngidul, Lady Cempluk mengumpulkan baju-baju yang akan dicuci. Mengambil di gantungan-gantungan baju. Suaminya memang hobi gantung baju kotor, tidak ditumpuk di ember cucian. Biar tidak pating umbruk, katanya. Tapi ya sama saja, baju-bajunya jadi pating cemrentel. Seragam-seragam segera diambil dan baju-baju harian yang kotor diambil Lady Cempluk langsung direndem detergen di ember.

 

Jon Koplo tampaknya sudah selesai sarapan, Lady Cempluk segera mengambil piring kotornya. Jon Koplo beranjak masuk ke kamar untuk bersiap-siap.

“Buuu…. Buneee..” Terdengar panggilan Jon Koplo. Lady Cempluk segera menuju kamar.

“Opo, Pakne?”

“Seragamku putih biru mana? Tadi tak cantelke di sini.” Kata Jon Koplo sambil menunjuk gantungan baju samping lemari.  Lady Cempluk kaget sekaget-kagetnya. Sudah tidak ada baju lagi di situ. Sudah diambil tadi.

“Waduhhh Pakne. Bajunya tadi aku ambil mau dicuci.”

“Lha mana? Sini ambil lagi mau aku pakai.”

“Bajunya sudah direndam, Pakne.” Lady Cempluk terdiam.

Jon Koplo kaget bukan kepalang.

“Blaik, ciloko iki… HRD lagi galak je…”

 

Lady Cempluk merasa sangat bersalah. Dia babar blas tidak tahu seragam-seragam suaminya. Wong tiap hari ganti warna seragam dan mirip-mirip semua warnanya. Lady Cempluk mulai misek-misek.

 

Uwis to, Bune. Tidak apa-apa. Nanti jaketnya di kantor tidak usah dibuka kan tidak konangan kalau tidak pakai seragam.” Mendadak Lady Cempluk berdiri dan menuju lemari. Dia membongkar bungkusan baju yang sudah tidak terpakai.

“Pakai ini aja ya, Pakne. Aku setrika dulu ya.” Kata Lady Cempluk sambil menunjukkan baju yang baru diambilnya. Untunglah ada seragam lama dengan warna dan model  yang sama, hanya tulisan di bordiran saja yang berbeda.

 

————-

*semoga tulisan lain ikut segera nyusul nongol di media

*mari belajar menulis ^_^