Hantu Rambut Panjang

Sebagai seorang ibu, istri, mantu, sekaligus karyawan, aku harus bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Aktivitas sehari-hari cukup padat, sepadat jalanan kota Solo di pagi hari. Berangkat kerja jam tujuh pagi dan kembali pulang jam empat sore atau jam enam sore badai lembur mulai melanda.  Belum lagi cita-cita sebagai pahlawan dengan pahlawan tanpa tanda jasa memaksa egoku untuk meluangkan waktu bercengkrama dengan PR dan rumus-rumus yang sudah tidak terjamah sejak 15 tahun yang lalu. Yap, menemani tiga gadis imut yang masih duduk di bangku SMP untuk belajar. Atau sekadar minta dikoreksikan PR-nya.  Jam 9 malam baru bisa memulai pekerjaan rumah seperti membaca, menulis dan menonton televisi. Eh maaf, maksudku pekerjaan ala pembantu di sinetron Indonesia.  Nginem mania mantap!

 

Jika tidak ikut tertidur setelah ngeloni Fatih, maka acara selanjutnya adalah mencuci atau menyetrika atau memasak atau kombinasi beberapa diantaranya. Oke, acara malam itu adalah malam mencuci. 2 ember. Seragam dan baju harian selama 3 hari. Oke, siapkan peralatan tempuuurr.

HP dan headset.

 

Haha… Benar, setiap kali mencuci malam maka telinga akan aku sumpeli dengan headset, denger radio, lagu atau menelepon kawan lama. Kali ini sudah terlalu malam untuk menelepon kawan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, jadi aku memilih mendengarkan musik saja.

 

Mmmm… pasti kalian akan membayangkan aku sedemikian rupa sebagai makhluk ajaib yang sedang pakai daster, ngucek baju dan berheadset sambil karaoke. Sungguh, aku sedang tidak menyanyi, aku juga sedang tidak ingin konser malam ini. Aku hanya ingin menghalau desau angin dan membunuh senyapnya malam.  Oh iya, aku nggak pernah pakai daster di rumah. Ribet.

 

Oke, sepertinya perlu aku deskripsikan suasana tempat mencuciku. Rumah bagian belakang bagian yang diberi atap hanya kamar mandi dan tempat mencuci.  Sedang sisanya beratap langit gemintang atau bulan bersama awan. Ada tembok tinggi di sekeliling pekarangan, jadi tidak perlu khawatir ada maling masuk ke belakang rumah.

 

Dingin? Tentu saja, kalau sedang musim dingin.

Horor? Tentu saja kalau sedang musim horror.

Musim horor?

 

Begini, di perkampungan sebelah sono. Dulu ada bekas rel kereta tebu, sampai sekarang rel itu masih ada dan tidak bisa diganggu gugat. Entah apa maksudnya, yang jelas tempat itu menjadi tempat yang wingit alias serem. Jika jam di dinding sudah melewati angka 12 malam, akan terdengar suara seperangkat gamelan yang ditabuh, tanpa sinden. Tetangga ada yang nanggap wayang? Kalau nanggap wayang tentunya ada suara tuk dalang, eh salah, pak dalang maksudnya. Bukan. Ini hanya suara gamelan saja, dan pastinya tidak bakalan ada sekelompok tukang gamelan yang latihan di tengah malam.

 

Aku sih biasa saja. Toh ya cuma suara, nggak ada penampakan apa-apa. Apalagi posisinya nun jauh di kampung sebelah sana. Tidak perlu takut lah. Suara itu juga sudah familiar untuk warga di sini. Anggap saja lagi denger radio. *tambah volume headset

Katanya, sekali lagi katanya, tantenya Fatih yang rumahnya di belakang rumahku itu pernah didatangi genderuwo. Konon pada jaman dahulu kala, ada pohon beringin di pekarangan belakang. Karena lahannya dipakai untuk rumah Tantenya Fatih maka ditebanglah pohon beringin itu. Suamiku pernah bilang, kalau tiba-tiba ada bau kentang dibakar itu tandanya ada genderuwo lagi makan.

*Tambah lagi volume headsetnya, eh ini kan bau bukan suara. Oke, jepit hidung pakai jepitan baju.

 

Ah sudah, itu hanya hantu-hantu katanya. Katanya dan katanya.

Kali ini aku yang akan bercerita.

 

Malam itu aku asyik masyuk bercengkrama dengan baju kotor, air dan deterjen. Suara merdu Agnes Monica dengan lagu Rindu semakin membuatku larut dalam romansa malam menjelang dini hari.

Tiba-tiba….

Darahku berdesir, bulu kudukku berdiri. Hawa dingin menusuk kulitku. Di ujung mata aku melihat ada sesosok tubuh besar, hitam dan berambut panjang berdiri di belakangku. Kulihat sekilas dia tidak berbaju, tidak berbulu, rambut panjangnya tergerai berantakan. Diam tidak bergerak.

Aku tidak boleh takut!

Aku tidak boleh takut!

Aku tidak boleh takut!

Aku ingat pesan temanku,  hantu itu berasal dari api, air akan mengalahkannya. Perlahan aku ambil gayung yang ada di bak air sebelahku sambil terus berjuang sekuat tenaga menahan ketakutanku.

Aku harus melawan!

Dengan sekuat tenaga aku berbalik dan kusiramkan segayung air ke arah makhluk di belakangku.

“Aduh, basah semua ini!  Katanya tadi minta ditemenin nyuci, eh dah ditemeni malah disiram!”

 

Nilai moral dari cerita ini: Kalau pakai headset volumenya jangan terlalu keras, nanti bisa merusak indera pendengaran.

 

Fatih dan Semut

DSC01432

Fatih sama seperti para balita berumur dua tahun yang lainnya. Anak pertama kami ini sedang aktif-aktifnya bereksplorasi di dalam rumah maupun di luar rumah. Tidak heran banyak kalimat-kalimat baru hasil inisiatifnya dan tentu saja keajaiban-kejaiban muncul dari perilakunya.

Sore itu Fatih sedang menikmati cemilan roti bolu. Kali ini tidak hanya memakannya tetapi roti bolu itu diremuk kecil-kecil dan disebar ke beberapa tempat bermainnya.

“Fatih, kok rotine disebar-sebar ngono? Kan roti kuwi dinggo dimaem? Ndak marai okeh semut.”

Di luar dugaan saya, Fatih menjawab dengan sangat enteng. Khas anak-anak.

“Ibu, yotinya nggo cemut. Ben cemute meyu maem. Ben cemute cepet jede. ”

Walaupun masih belum fasih berkata-kata, Fatih sudah mulai mampu merangkai kalimat sederhana. Roti miliknya memang sengaja disebar agar dimakan oleh semut. Biar semutnya cepat gede katanya.(*haisshh tih tih...)

Selama ini memang setiap mau makan, saya membujuk Fatih salah satunya makan biar cepet gede. Bagi Fatih menjadi gede adalah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Boleh naik sepeda mini, boleh mainan gunting ibunya, boleh memotong sayur dengan pisau dapur dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang sementara masih ditunda diberikan untuk masa sekarang ini. Memang belum waktunya Fatih bermain seperti itu. (*tunggu masanya ya, sayang)

Sejauh ini bujukan itu berhasil. Dan sepertinya Fatih juga menginginkan semut-semut yang kecil itu segera menjadi gede. Tentu saja Fatih belum memahami bahwa semut memiliki ukuran tubuh tertentu. Ada waktunya nanti menjelasakan tentang dunia semut. *ibu taq tuku bukune sik

Selain menerapkan konsep makan untuk tumbuh menjadi besar, pelajaran berbagi yang saya ajarkan kepada Fatih sepertinya sudah mulai tersimpan dalam memorinya. Sebelumnya, Fatih seorang yang over protective atas harta kepemilikannya. Ada teman yang menyentuh mainan atau makanannya maka akan terjadi perseteruan yang pasti berbuah tangis di salah satu anak, atau bahkan keduanya. *tirun mboke opo pakne yaa...

Dan kini Fatih mulai bisa berbagi, walau dengan semut. Semoga setelah ini, Fatih mau berbagi dengan teman-temannya. *aamiiinn...

Kisah Fatih dengan semut bersambung ketika Mbahuti Fatih melihat serombongan semut sedang bermigrasi. Dengan sigap Mbahuti mengambil sapu dan menghalau semut-semut keluar rumah. Fatih yang melihatnya malah menangis. *lha koq?

“Fatih, ngopo koq nangis?”

“Ibu, cemute mesakkeh. Dicapu Mbahuti mengko ndak cemute mati. Ojo dicapuuu, Mbaaaahh…..”

Ketika sebelum-sebelumnya Fatih hobi mengejar semut kemudian membunuhnya, kini Fatih sudah mulai berwelas asih dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. *(y)

Tidak mudah mengajari makna kasihan kepada balita dua tahun ini. Tapi sejalan dengan perkembangan pola pikirnya, Fatih tahu kapan dia siap dengan makna-makna kata yang diajarkan oleh bapak ibunya. Kami tidak memaksa, biarkan tetap berjalan alami. *yupp...

Kami, para manusia dewasa, kembali belajar bersama si kecil untuk kembali belajar menyayangi makhluk hidup dan tidak membunuh mereka.*selfplak!

Ibuuuuu… Nyamuke nakay!” Fatih menggaruk pahanya yang bentol merah.

Wah, kalau sama nyamuk ibu dan Fatih tetap tega membunuhnya.

Hihihi…

Aku dan Bapakku

Awal aku masih berseragam abu-abu putih, aku tinggal bersama kakak pertama dan suaminya. Walaupun aku enggan tinggal bersama iparku, tapi aku tak kuasa menolak permintaan ibuku itu. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 45 menit dengan naik bis. Masih harus jalan kaki dari rumah ke jalan raya dan dari terminal ke sekolah ibu dan bapak tidak ingin aku lelah di perjalanan dan berakibat tidak fokus belajar di sekolah.

Tidak genap setahun aku menyerah tinggal di rumah kakak. Ketidakcocokan dengan ipar membuatku memilih untuk pulang ke rumah saja. Aku sudah keluarkan seluruh argumen kenapa aku tidak mau tinggal di rumah mbakku lagi. Dengan berat hati ibu dan bapak menerima, dan membuat perjanjian bahwa jarak yang jauh tidak boleh menganggu belajarku.
(…Baca lanjutannya di sini yaa…)

my everything

cintaku

Sayangku,

Kau hadir sebagai segalaku. Dalam tawamu disitulah tawaku. Dalam tangismu disitu pula tangisku Aku tak mengharapkan harapan yang setinggi langit, seperti banyak orang ingin anaknya melejit. Aku hanya ingin kau selalu menjadikanku dihatimu, selama hayat masih ada di badanmu

*tumbuh jadi anak yang sehat, pintar dan soleh ya, nak..

My first, my last, my everything
And the answer to all my dreams
You’re my sun, my moon, my guiding star
My kind of wonderful, that’s what you are

My everything…

Dan kau mengembangkan tangan lalu memelukku.

*thanks iklan bebelac

Dolan Manahan

DSC03775

Manahan, 15 Desember 2013

Sesekali mengajak Fatih ke keramaian. Pasar kaget Manahan Sunday Morning. Lumayanlah, klo misal di hari biasa nyelakke olahraga pun hanya jalan santai keliling stadion Manahan adalah merupakan mission imposible, maka jalan santai hari minggu dengan melihat2 pasar kaget di Manahan, simbok-e lan bapak-e Fatih berhasil ngubengi stadion besar dan stadion kecil.
berapa jarak yang ditempuh ya?
*tauk ah, males ngitung
😀

pun begitu byk pedagang, yang kebagian duit cuma pedagang lemari gantung, sandal murmer, teh manis dan dolanan bocah.
iki mampir nggon dolanan bocah soale simboke wis keju sikile
😀
(…Baca lanjutannya di sini yaa…)