Ah Tenane – Kesregepen Umbah-umbah

*dimuat di solopos (entah tanggal berapa, nggak langganan koran. Tau dimuat karena ada wesel datang ke rumah)

*naskah asli, nggak tau yang dimuat diedit kayak apa. Penting dimuat  😀

———————

Kesregepen Umbah-umbah

 

Jon Koplo sedang bersiap-siap berangkat makaryo. Istrinya, Lady Cempluk, sedang menyiapkan sarapan bobor mbayung dan tempe bacem kesukaan suaminya. Hari ini anak lanangnya libur sekolah dan masih angler di kamar.  Jadi Lady Cempluk lebih santai, tidak mruput seperti biasanya.

 

“Pakne, sarapan sudah siap.” Panggil Lady Cempluk. Jon Koplo datang masih memakai kaos singlet, belum memakai seragam hari ini. Sumuk, katanya. Sambil nemeni suaminya sarapan dan ngobrol ngalor ngidul, Lady Cempluk mengumpulkan baju-baju yang akan dicuci. Mengambil di gantungan-gantungan baju. Suaminya memang hobi gantung baju kotor, tidak ditumpuk di ember cucian. Biar tidak pating umbruk, katanya. Tapi ya sama saja, baju-bajunya jadi pating cemrentel. Seragam-seragam segera diambil dan baju-baju harian yang kotor diambil Lady Cempluk langsung direndem detergen di ember.

 

Jon Koplo tampaknya sudah selesai sarapan, Lady Cempluk segera mengambil piring kotornya. Jon Koplo beranjak masuk ke kamar untuk bersiap-siap.

“Buuu…. Buneee..” Terdengar panggilan Jon Koplo. Lady Cempluk segera menuju kamar.

“Opo, Pakne?”

“Seragamku putih biru mana? Tadi tak cantelke di sini.” Kata Jon Koplo sambil menunjuk gantungan baju samping lemari.  Lady Cempluk kaget sekaget-kagetnya. Sudah tidak ada baju lagi di situ. Sudah diambil tadi.

“Waduhhh Pakne. Bajunya tadi aku ambil mau dicuci.”

“Lha mana? Sini ambil lagi mau aku pakai.”

“Bajunya sudah direndam, Pakne.” Lady Cempluk terdiam.

Jon Koplo kaget bukan kepalang.

“Blaik, ciloko iki… HRD lagi galak je…”

 

Lady Cempluk merasa sangat bersalah. Dia babar blas tidak tahu seragam-seragam suaminya. Wong tiap hari ganti warna seragam dan mirip-mirip semua warnanya. Lady Cempluk mulai misek-misek.

 

Uwis to, Bune. Tidak apa-apa. Nanti jaketnya di kantor tidak usah dibuka kan tidak konangan kalau tidak pakai seragam.” Mendadak Lady Cempluk berdiri dan menuju lemari. Dia membongkar bungkusan baju yang sudah tidak terpakai.

“Pakai ini aja ya, Pakne. Aku setrika dulu ya.” Kata Lady Cempluk sambil menunjukkan baju yang baru diambilnya. Untunglah ada seragam lama dengan warna dan model  yang sama, hanya tulisan di bordiran saja yang berbeda.

 

————-

*semoga tulisan lain ikut segera nyusul nongol di media

*mari belajar menulis ^_^

Advertisements