[Cerita Hijab Pertamaku] Rambut awut-awutan? Pakai Jilbab saja!

Digital image

 (Bersama Teman di Tawangmangu -2011 )

Suer, kali pertama niat yang terpikirkan dari kata jilbab adalah buat nutupi rambut yang awut-awutan dan susah diatur ini. Kala itu diriku masih awal-awal berseragam abu-abu. Rasa keren memakai segaram sekolah baru hanya berlangsung sekejap. Perjalanan dari rumah menuju sekolah hampir satu jam, dari berjalan kaki dari rumah ke jalan raya, naik bis dan berjalan lagi dari terminal ke sekolah. Tentu saja membuat penampilanku lusuh apalagi rambut yang gampang sekali berantakan.

Beberapa teman membawa sisir, bedak dan lipbalm di tas sekolah mereka. Bagaimana dengan aku? No, way! Aku bukan wanita pesolek. Tidak dandan saja aku sudah cantik, kalau dandan bisa-bisa banyak yang kepincut dengan diriku ini (*bohong). Bukan, bukan begitu. Aku memang tidak suka berdandan. Keinginan bapak punya anak laki-laki ternyata berefek ke kepribadianku, juga penampilanku.

Satu permasalahan yang bikin aku gedeg adalah rambutku yang super duper lurus susah diatur ini. Apalagi simbokku penganut paham “Jika bisa dilakukan sendiri kenapa mesti keluar uang” jadilah setiap potong rambut, ibuku yang menjadi juru potong rambut. Dan tentu saja modelnya sesuka hati simbokku. Dan nggak gaul banget. *hihihi…

ROHIS sekolahku ada program jilbabisasi, itu tuh program buat bantu siswa yang pengen berjilbab tapi belum ada dana.  Sebenarnya minta uang ke simbokku bisa, tapi aku sudah kadung beli seragam pendek jadi pastinya simbokku akan menolak. Jadilah aku mendaftar ke mbak-mbak Rohis ikut program keren itu. Aku masih ingat saat itu, tahun 1999, aku dapet uang 50ribu, baju seragam pantas pakai dan beberapa jilbab sumbangan dari donatur.

Daaan dengan berjilbab, masalah rambutku selesai!

Nggak perlu sisiran langsung iket ini rambut, lalu pakai jilbabnya. Beres dan cantik!

Ssssstttt.. aku pakai jilbab saat ke sekolah saja. Sampai rumah lepas jilbab dan kembali dengan seragam harian: kaos pendek dan celana pendek . Soalnya tiap hari aku ke kebun, nggak keren kan ke kebun pakai rok? *alasan 😀

Sampai ada satu kejadian yang bikin aku maluuuu banget.

Aku punya guru yang masih satu kecamatan denganku. Pak guru yang tampan itu ternyata sering main voli di desaku. Saat itu aku sedang belanja di warung deket lapangan. Dan tararaaa… bertemulah dengan pak guru. Mau tau komentarnya?

“Pak guru pangling, biasanya pakai jilbab koq ini nggak pakai. Cantik pakai jilbab lah. Dipakai ya jilbabnya.” Rasanya pengen lari lalu ngumpet di dasar kali dan nggak nongol sampai pak guru pulang voli lalu aku pindah sekolah ke Jakarta *lebay!

Setelah kejadian itu, aku memulai era baru berjilbab dengan benar. Memakai jilbab tidak hanya di sekolah saja. Membenahi pola pakaian, pola tingkah laku, pola bicara dan tentu saja pola pikir sebagai seorang muslimah. Walau tomboynya tetep nggak bisa hilang. *maklum bawaan orok

Karena ikut program Rohis, aku juga sering diajak pengajian di masjid sekolah dan ikut kegiatan-kegiatan Rohis. Sampai menjadi anggota Rohis dan ikut membantu kegiatan keislaman di tingkat sekolah. Dan semakin banyak belajar tentang berjilbab, maka semakin mantap menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah. Menutup aurat.

Berjilbab adalah wajib bagi semua muslimah, dan khusus untukku berbonus nggak repot merapikan rambutku yang awut-awutan.

Alhamdulillah…

 

Artikel ini diikutsertakan  dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway” 

GA jilbab

Advertisements

2 thoughts on “[Cerita Hijab Pertamaku] Rambut awut-awutan? Pakai Jilbab saja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s