Hadiah Pertama dari Menulis

Menulis menjadi salah satu kebiasaan baruku. Dulu sempet jadi penulis amatiran. Maklum sebagai sekretaris redaksi majalah kampus, kalau pas ada naskah yang bolong ya kejatah nulis. Maka dimulailah pengembaraan dalam dunia tulis menulis. Sebenarnya dari SMP sudah mulai suka menulis, mading misalnya. SMA juga mencoba per-eksis-an di dunia mading. Untuk masuk ke dalam jajaran redaksional masih belum cukup keberanian. Jadilah aku hanya menjadi tim penggembira mading saja. *yang penting gembira

Masa kuliah adalah masa menyerap aneka macam ilmu. Dari ilmu perkuliahan, ilmu ngomong, ilmu membaca dan tentunya ilmu menulis. Maka dengan segenap keberanian aku mengajukan diri menjadi bagian dari buletin organisasi di fakultas. Merasa diri tidak mempunyai ilmu yang mumpuni, maka “bersekolah minggu” menjadi keinginanku. Dan baru terwujud saat kuliahku masuk semester lima. Sekolah minggu ini istilah yang aku buat untuk kegiatan pelatihan kepenulisan yang diampu oleh FLP Solo. Ya, itung-itung kenalan sama penulis-penulis senior Solo dan menambah teman. *nggak mau rugi lah

Oiya, Aku kuliah di jurusan matematika. Jadinya agak menyimpang jika selanjutnya aku jatuh cinta pada dunia kepenulisan. Mungkin efek dari mabok nulis rumus, jadi nulis kata-kata aku gunakan sebagai hiburan, biar kepala nggak ngebul. Hihihi…

Berkutat dengan skripsi membuatku menjauh dari dunia tulis menulis fiksi. Kemudian mendamparkan diri di penerbit buku pelajaran membuatku semakin jauh dari dunia merangkai kata-kata bermajas. Hingga akhirnya aku menemukan dunia baru di…. di…. di… Fesbuk.

Ya, fesbuk. Ada grup emak-emak yang bikin lomba menulis. Dan entah kenapa, adrenalinku mendadak kembali membara. Lalu aku rangkaikan beberapa kisah tentang kehidupanku tepat sehari menjelang deadline. Inilah the power of kepepet. Tidak mengincar hadiah, hanya ingin kembali menggoreskan penaku di dunia tulis menulis. Melepaskan kungkungan huruf-huruf dari kepalaku.

Tidak disangka, dari empat naskah, kesemuanya masuk dalam nilai yang memuaskan. Dan salah satu tulisanku mendapat urutan nomor tiga. Dan sebulan kemudian bungkusan kado cokelat yang dilewatkan pengiriman ekpedisi terkenal mampir ke kantorku. Dan hadiahnya buanyaaaak….

DSC00263

  • Ada daster besar, aku persembahkan untuk ibu mertuaku.
  • Ada bros-bros, aku serahkan kepada keponakan-keponakanku
  • Ada bantal donat, anakku girang sekali
  • Ada dompet, jilbab-jilbab, daster seksi untukku sendiri.

Aku tidak mengira, geliat pertamaku di dunia tulis menulis menghantarkan beberapa hadiah yang biasa aku  pakai dan bisa aku bagi dengan keluargaku. Dan yang terpenting, aku menjadi semakin semangat untuk belajar dan belajar menulis kembali. Menulis blog menjadi salah satu sasaranku. Setelah 3 tahun mangkrak, akhirnya si blog tersenyum menyambutku kembali.

Dari Fesbuk juga aku menemukan rumah baru, rumah Ibu-Ibu Doyan Nulis, Writing Training Center, WSC, dll. Berkomunitas dengan ibu-ibu yang suka menulis juga membangkitkan gairah menulisku sendiri. Dimanapun kita tetap bisa belajar.

Mari kembali menulis…

banner_pungky

Advertisements