tiwul dan taperwer

DSC01453

Ibu mertua saya penjual makanan dengan model tenongan.Jika Anda berdomisili daerah Soloraya pasti mengenal tenongan. Ya, penganan siap makan ditempatkan dalam tenong, dulunya, tapi sekarang jaman sudah maju, dan tenong semakin susah dicari. Jadi, ibu menempatkan barang dagangannya di keranjang plastik.

Ibu jualan keliling besepeda tiap pagi ke desa-desa sekitar . Jajanan ibu bermacam-macam dari nasi ketan, nasi kucing, mihun, jenang lemu dan tiwul. Nah tiwul inilah yang akan saya ceritakan.

Tiwul itu makanan khas wong gunung. Ya, tiwul biasanya dikonsumsi oleh masyarakat pegunungan yang notabene tidak bisa bertanam padi. Bisanya ya tanam singkong. Nah singkong inilah nanti akan bermetamorfosis menjadi tiwul. Cari di google saja yah penjelasan pembuatan tiwul.

Di tempat asalnya sana, tiwul menjadi pengganti nasi. Tapi di kota, tiwul menjelma menjadi panganan langka yang diburu orang. Sudah nyarinya, bro…

Tiwul itu istimewa. Eksistensinya sejak jaman Belanda menjajah sampai sekarang masih saja ada. Jika dulu tiwul dikonsumsi demi mempertahankan hidup, sekarang tiwul dicari demi mendapatkan eksistensi di dunia maya . Sungguh, posting foto tiwul itu lebih banyak yang komentar daripada posting foto steak. Tanya mengapa.

Menyambung ke dunia maya, kemarin saya meng-upload postingan tentang tiwul yang ditempatkan di tempat makan yang kata orang ekslusif dan berkelas. Benda yang saya maksud bermerek taperwer. Taperwer ini sebenarnya hanya berasal dari plastik biasa. Mungkin karena berasal dari negeri Amerika Serikat jadinya meninggikan kastanya dan harganya. Mahal. Beneran mahal. Memang benar sih, kualitas membawa harga. Ada merek yang lebih mahal, tapi si tupy ini cukup mahal bagi kantong cekak macam saya ini. Dan ibu-ibu merasa pamornya naik kalau bawa makan siang dengan wadah ini. Tidak termasuk saya lho ya. Saya dulu beli tupy ini juga karena kepepet pengen beli tempat makan untuk si bayi. Karena bayi saya sudah gede, jadi giliran emaknya memakai tupy ini buat bekal dibawa ke tempat kerja. Dan tidak tanggung-tanggung, isinya tiwul.

Sungguh tiwul dan taperwer ini bagai bumi dan langit, bagai kasta sudra dan ksatria, bagai bangsawan dan rakya jelata, dan aneka perbandingan lain yang menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dan saya cukup berbangga hati berhasil menyandingkan dua kasta ini dalam satu balutan cinta. Cinta kepada saya, kepada perut saya.

Apa setelah tiwul bersanding dengan taperwer akan berbeda rasa? Menjadi lebih enak misalnya. Atau taperwer yang mahal itu akan menjadi murahan karena ditempati tiwul? Tidak ada yang berubah dari keduanya. Tiwul tetap menjadi tiwul dengan segala kendesoannya, dan taperwer tetap menjadi taperwer dengan segala kelasnya.

Advertisements