Aku dan pilihanku

Aku masih ingat betul, aku didaulat mengerjakan satu naskah (pekerjaan rumah) sejak awal ramadhan kemarin, ya benar-benar hanya satu naskah. sekarang sudah 3 bulan berlalu naskah itu belum selesai juga. Rasa-rasanya cepat sekali waktu berlalu.

Benarkah waktu yang cepat berlalu atau kita yang terlalu melenakan diri dengan waktu-waktu kosong kita?

Sebagai ibu, sebagai karyawan dan sebagai istri, jobdesk yang aku miliki cukup padat. Aku harus bisa membagi waktu dengan baik, sebaik-baiknya agar semua berjalan semestinya. Berharap semua akan lancar seperti harapan.

Semuanya ini adalah konsekuensi atas pilihan yang aku ambil.

Aku memilih menjadi ibu.
Artinya aku harus menghandel urusan anak sepanjang hari. dari urusan remeh temeh seperti mencuci bajunya, sampai urusan kelas atas macam mengajak si kecil belajar.

Aku memilih menjadi karyawan
Artinya aku memilih meninggalkan anak, menari di padatnya jalanan lalu sesampai kantor bergelut dengan setumpuk pekerjaan dan  bercengkrama dengan kata deadline. Aku harus mengoptimalkan tenaga dan pikiran demi target pekerjaan.

Aku memilih menjadi seorang istri.
Artinya aku harus siap kapanpun harus melayani kebutuhan suami, dari urusan remeh temeh seperti membuatkan secangkir teh sampai urusan kelas kakap dengan menjadi asisten presiden rumah tangga.

ss

Semuanya pilihanku dan aku harus siap dengan segala konsekuensi, kewajiban dan resiko-resiko yang harus aku hadapi.
salah satu yang harus aku miliki adalah urutan prioritas. Prioritas pertama adalah sesuai kondisi dimana aku sedang berada (dalam kondisi normal). Jika di kantor ya bekerja, dengan Fatih yang menjadi teman mainnya, dengan suami ya menjadi teman duduknya.

Jika semuanya sedang bertabrakan, maka prioritas pertamaku adalah urutan pekerjaan dengan kewajiban tertinggi yang tidak bisa aku tinggalkan.

Kasus Fatih sakit DB kemarin membuat aku memposisikan Fatih sebagai prioritas pertama. Minta ijin ke suami absen sementara dari tugas istri, minta ijin ke para bos untuk absen sementara dari tumpukan pekerjaan.

Beruntunglah aku memiliki para atasan yang pengertian. Suami yang mau mengalah sementara dan juga ikut menjadikan Fatih sebagai prioritas utama. Juga sang pimpinan yang juga seorang ibu, sehingga tahu seperti apa rasanya jika anak sakit.
Alhamdulillah…

Sekarang semuanya sudah mulai stabil.
mari segera bergerak menyelesaikan semua pekerjaan. Membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Pekerjaan ibu, pekerjaan istri dan pekerjaan karyawan. Jangan menunda-nunda pekerjaan. Waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang.

Jangan lupa, ul.
Naskahnya segera diselesaikan ya.. (*iyaaaaa…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s