Dimanapun, Ibu Tetaplah Ibu

 

Seperti hari-hari biasanya, saya berada di ruang ber-AC dengan 20 orang di dalam ruangan ini. Bergelut dengan setumpuk pekerjaan dan bercengkrama dengan layar monitor yang menampilkan pekerjaan saya. Setiap hari selama hari kerja, senin sampai sabtu, dari jam 07.30 sampai 15.30. Ya, saya seorang pekerja.

Menjadi wanita pekerja memiliki tanggungjawab dan tuntutan yang sama dengan pekerja jenis kelamin lainnya. Tidak ada diskriminasi. Pekerjaan kami pekerjaan yang berdeadline ketat, sehingga mau tidak mau, kami harus mengejar pernaskahan selesai tepat waktu. Oh iya, saya bekerja sebagai editor pernaskahan.

Dibalik layar, saya adalah seorang ibu dari seorang anak yang sedang aktif bereksplorasi. Kami hidup tanpa asisten rumah tangga. Semua rutinitas pekerjaan rumah kami lakukan sendiri. Alhamdulillah, walaupun lelah melanda, suami kadangkala mau membantu “urusan belakang”. Apapun bantuan dari suami, sebagai bu rumah tangga sekaligus ibu bekerja, saya sangat merasa terbantu.

Belakangan ini di media sosial seringkali muncul perdebatan tentang ibu pekerja dan ibu rumah tangga. Para ibu rumah tangga merasa lebih mulia karena disanalah kodrat wanita sesungguhnya, dan kami para ibu bekerja dianggap sebagai ibu yang tidak bertanggungjawab atas anak-anak dan rumah tangganya. Hadis pegangan para ibu itupun jelas dan shahih.

Mungkin mereka belum tahu rasanya menjadi ibu pekerja. Meninggalkan si kecil sejak masih bayi merah setelah masa cuti habis, sungguh bukan perkara yang mudah. Belum lagi setelah si kecil bisa berkata, tangisan dan permintaan agar ibu tetap tinggal di rumah semakin mengiris hati. Tidak semudah itu menjadi meninggalkan rumah. Memang benar, di luar sana ada wanita-wanita yang lebih mengejar karir dan menganggap pekerjaan sebagai tuntutan atas gelar yang dia peroleh. Aku yakin, tidak banyak wanita yang demikian. Mereka adalah perkecualian. Tidak banyak, hanya secuil garam di samudera.

Saya ingat kelakar seorang teman bagaimana dia menyanggah kata-kata para ibu aktivis ibu rumah tangga tersebut. “Ibu mau ke pasar di pasar adanya bapak-bapak kumisan semua? Ibu mau lahiran dibantu sama bapak bidan? Ibu mau sakit disuntik KB sama pak dokter? Ibu mau semua yang ibu temui di luar rumah hanya bapak-bapak?” Dan saya hanya ikut tertawa.

Sungguh, cita-cita saya pun ingin tinggal tenang di rumah. Memantau perkembangan anak sambil duduk di sampingnya, melihat ruang tamu dan kamar rapi tidak berantakan, melayani kebutuhan suami dengan sigap dan segera, mengabdikan seutuhnya di dalam rumah demi ridho dari Allah.

Menjadi ibu rumah tangga atau menjadi ibu pekerja adalah pilihan. Dan pilihan itu mengantarkan kepada konsekuensi dan resiko. Semua ada resikonya, semua ada positif dan negatifnya. Tinggal bagaimana kita memanajemen pilihan kita itu menjadi pilihan yang mendekatkan diri kepada Illahi.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s