Aku dan Ibuku

[Aku dan Ibuku]

Ibu minggat.”

Sms singkat dari kakakku spontan membuatku kaget.

Tidak mungkin ibu minggat. Tidak mungkin!

Ibu kini tinggal berdua dengan bapak. Dari keenam anaknya, kakak lelakiku yang sms ini rumahnya paling dekat dengan ibu. Masih satu kampung. Selain dia ada kakak pertama yang tinggal bersama suaminya di Gombong, 20 km dari rumah ibu. Dan menghubungi kakak perempuanku adalah satu-satunya langkah praktis untuk mencari keberadaan ibuku.

Mbak, ibu di Gombong?

Iya, barusan sampai. Sakit. Ini ibu sudah mbak bawa ke rumah sakit untuk periksa. ”

Ibu sakit apa?”

Belum tahu, batuk tapi cukup mencurigakan, bukan batuk biasa. Nanti kalau hasilnya sudah keluar mbak hubungi kamu.

Bukan batuk biasa?”

Iya, berdarah

Aku kehilangan kata, kata yang ingin aku ucapkan berubah menjadi bulir airmata. Menetes, menetes dan tetesannya semakin berlari.

Nggak apa-apa, kamu tenang saja. Nanti mbak kabari lagi.”

Bagaimana bisa aku tenang saja. 200 km membentang dari tempatku berdiri, di sana ibuku sedang sendiri melawan sakitnya. Ingin segera aku terbang dan memeluk ibuku. Ingin sekadar mengurangi luka di dadanya. Apa lacur, aku hanya memiliki dua kaki yang kini sedang gemetar. Tak mampu menahan berat perasaanku.

Allah, berikan kekuatan untuk ibuku.

 

***

Ibu ndak apa-apa, nduk. Biasa, kecapekan panen kemarin. Tahu sendiri kan, di rumah ndak ada yang bantuin. Ibu cuma berdua sama bapakmu. Lha bapakmu ngurus yang di sawah, ibu ngurus yang di rumah. Wong ini juga sebagian penennya kena banjir, kalau nggak segera dijemur nanti malah busuk .” Seorang ibu, tidak pernah ingin anaknya mengetahui derita yang dia rasa. Tapi aku sudah sangat tahu, ibuku seorang pembohong, selalu berbohong segala sesuatunya baik-baik saja, tapi di kemudian hari terbukti tidak semua dalam semestinya.

Mbakyuku sudah mengabari, ibu sakit infeksi paru-paru. Untungnya masih level ringan, jadi bisa diterapi. Setiap hari harus cek dahak ke rumah sakit. Untung ibu manut mau tinggal sementara di rumah mbakyu sampai kondisinya pulih.

Ibu sudah siap mati, tapi ibu masih harus berusaha untuk tetap hidup. Manut sama mbakyumu. Biar cepet sembuh. Masih ada adikmu yang belum menikah. Rasanya belum tuntas, kalau anak-anak ibu belum mentas.

Ibu manapun, pasti ingin memastikan anaknya bahagia, tidak ada ibu yang ingin melihat anak-anaknya hidup sengsara. Tak terkecuali ibuku. Ibu rela bermandikan peluh di bawah teriknya matahari, bergelut dengan lumpur dan debu, agar kami tetap bisa makan, agar kami tetap terus sekolah.

Ibu, aku pun ingin anak-anaku tumbuh menjadi anak yang bahagia. Dan jika diijinkan, akupun ingin mati setelah anak-anakku bahagia.

Istri masmu itu kebangeten. Masmu dikekepi terus sama istrinya. Nengok ibu sebentar saja sudah ditelpan-telpon suruh pulang. Padahal pikir ibu ada anak yang dekat bisa buat tempat sambat. Nyatanya sama saja. Ibu dan bapak tetep sendirian. Ibu kemarin ketemu istri masmu di jalan, aku suruh nyampaikan ke bapak bahwa ibu ke Gombong tapi ternyata tidak disampaikan. Jadilah bapakmu geger bilang ibu minggat.

Pantaslah kenapa masku sampai tidak tahu ibuku pergi dari rumah. Sama seperti ibu, aku juga mengharapkan masku bisa jadi teman ibuku, mbak iparku sebagai anak perempuan ibuku. Tapi… Ah, sudahlah.

 

***

Menjadi ibu dari enam anak, tujuh jika mbakku yang meninggal juga dihitung, bukan perkara yang enteng. Berat, sangat berat. Aku baru memiliki satu anak saja sudah terasa beratnya. Apalagi enam. Itupun masih ditambah masalah ekonomi. Jika kami keluarga kaya, tentulah dengan mudah ibu menyekolahkan anak-anak, memberi makan yang enak. Tapi sekadar tempe saja itu makanan mewah bagi kami. Sungguh, tempe adalah makanan mewah. Kami terbiasa makan nasi dan sayur saja. Dengan sayur diambil sepetak kebun warisan yang ditanami aneka sayuran. Tanpa lauk. Ya, kami terbiasa makan tanpa lauk.

Aku masih ingat, dari keenam saudaraku, kata ibuku aku yang paling susah untuk urusan makan. Apalagi makan sayur. Bujuk halus sampai ancaman tidak pernah berhasil membuat sayur masuk ke perutku. Untuk meminumkan jamu temulawak saja aku harus dikejar masku dan diikat di tiang rumah. Hanya supaya aku mau makan, agar tidak hanya nasi garam atau nasi jelantah saja yang aku makan. Ah, ibu. Ibu tahu, anakku sekarang begitu susah makan, dan aku merasakan apa yang ibu rasakan waktu aku kecil dulu.

Ibuku memang bukan ibu sempurna. Bekas-bekas di kulitku menjadi saksi hukuman demi hukuman yang aku terima, bayaran atas kenakalanku. Akupun tidak memiliki memori dipeluk ibuku. Aku juga tidak ingat kapan ibu memujiku. Tidak ada, sama sekali tidak ada. Tapi dibalik semua itu, beliaulah ibu terbaik bagiku. Walau aku tak pernah mendengarnya berdoa, tapi aku sangat yakin ibu selalu menyelipkan namaku di sujud-sujud malamnya.

Setiap kali teringat ibu hanya berdua dengan bapak di usia yang semakin menua, ingin rasanya aku membagi dua ragaku, untuk suamiku dan untuk ibuku. Kala kecil ibu bersusah payah demi kami anak-anaknya, tapi setelah kami besar, kami meninggalkan ibu kami. Sendiri.

Lho namanya anak kan titipan. Ibu dititipi banyak anak sama Allah. Ibu tahu suatu waktu pasti titipan itu bakalan diambil dari ibu. Anak perempuan diambil oleh suami-suaminya, anak lelaki dimiliki oleh istri-istrinya. Ya semoga nanti istri adikmu mau diajak tinggal di rumah ini. Nemeni ibu dan bapak.

Iya, ibu mengingatkanku bahwa anak bukan milik kita. Anak hanya titipan. Kelak, titipan itu pasti akan diambil. Dan kita harus mengikhlaskannya. Aku ingin belajar seikhlas ibu.

Aku malu menjadi anak ibuku. Aku malu tidak bisa menjadi seperti yang ibu inginkan. Aku belum bisa membahagiakan ibuku. Aku bukan anak yang sempurna, bukan anak terbaik diantara anak-anak ibuku. Aku yang terlalu sering menggoreskan luka di hatinya, aku yang mungkin telah menghabiskan airmatanya, aku pula yang terlalu sering menghilangkan nyenyak tidurnya. Maafkan aku ibuu…

Ibu, ijinkan aku mengganti dukamu dengan lantunan doa-doa di setiap munajatku.

..Robbighfrlii wali waa lidayya warhamhuma kamaa robbayanii soghiro..

 

ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s