Aku dan Bapakku

Awal aku masih berseragam abu-abu putih, aku tinggal bersama kakak pertama dan suaminya. Walaupun aku enggan tinggal bersama iparku, tapi aku tak kuasa menolak permintaan ibuku itu. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 45 menit dengan naik bis. Masih harus jalan kaki dari rumah ke jalan raya dan dari terminal ke sekolah ibu dan bapak tidak ingin aku lelah di perjalanan dan berakibat tidak fokus belajar di sekolah.

Tidak genap setahun aku menyerah tinggal di rumah kakak. Ketidakcocokan dengan ipar membuatku memilih untuk pulang ke rumah saja. Aku sudah keluarkan seluruh argumen kenapa aku tidak mau tinggal di rumah mbakku lagi. Dengan berat hati ibu dan bapak menerima, dan membuat perjanjian bahwa jarak yang jauh tidak boleh menganggu belajarku.

Bapak kali ini mengambil peranan. Bapak tidak ingin anak perempuannya lelah melangkah menembus kabut pagi yang dingin menuju pemberhentian bus. Sebenarnya aku telah menolak keinginan bapak, aku bisa berjalan biar tambah sehat. Lagi pula hanya satu kilometer, tidak terlalu jauh. Memang ada sepeda di rumah, tapi sepeda menjadi teman bapak dan ibu kerja ke sawah. Juga tidak ada biaya untuk penitipan sepeda. Tapi bapak tidak menerima keberatanku.

“Kamu harus mau diantar bapak. Memang bapak nggak punya motor, tapi bapak masih punya kaki yang kuat buat ngonthel nganter kamu. Kamu nggak boleh capek. Nanti kalau capek malah jadi ngantuk di kelas. Malu-maluin.”

Dan aku mengaku kalah. Tidak mau mengecewakan bapak. Setiap pagi, bapak mengantarku bersama sepeda kumbangnya. Aku menikmati pagi yang cerah, menyapa matahari sambil mencatat nasehat-nasehat dari bapak. Kala hujan mendera, bapak telah menyiapkan plastik besar bekas pupuk yang dibuat sebagai pengganti mantol hujan. Ya, kami tidak pernah membeli mantol hujan. Memanfaatkan yang ada. Bapak bercaping, aku berpayung. Karena payung ini nanti aku gunakan untuk berjalan dari terminal ke sekolahan.

Aku tidak pernah menyesal dilahirkan di keluarga sederhana. Dari kesederhanaan itulah, aku belajar menjadi orang yang selalu bersyukur. Bapak mengajarkan, untuk kesenangan kita harus melihat ke bawah dan untuk keimanan kita harus melihat ke atas.

Aku akan selalu ingat pesanmu, bapak.

 

***

Lelaki ini yang aku panggil bapak ini dilahirkan sejak Indonesia belum merdeka, tahun 1940. Beliau menikmati getirnya hidup di awal-awal kemerdekaan. Setiap bapak berkisah tentang masa kecilnya terbayang begitu susah bertahan hidup dalam kesusahan. Apalagi keluarga bapak bukan keluarga kaya. Bahkan kesusahan itu ditambah dengan meninggalnya kakek di saat umur ayah masih belia. Sebagai anak sulung bapak harus menjadi kakak sekaligus pengganti bapak untuk ketiga adiknya.

Bapak memang tidak sepintar ibu. Ibu sempat sekolah lulus SR (Sekolah Rakyat) dan melanjutkan ke SMP walaupun tidak sampai lulus. Jaman dahulu, tidak penting perempuan sekolah. Perempuan hanya penting untuk urusan rumah saja. Sedangkan bapak sekolah SR saja tidak lulus. Keluarga bapak lebih memilih menyekolahkan bapak di pondok pesantren daripada di sekolah umum. Lagipula bapak tidak terlalu pintar urusan sekolah. Aku masih ingat, ibu marah-marah ke bapak karena bapak tidak lekas bisa membaca ketika ikut kejar paket, di saat yang sama aku juga sedang belajar membaca, dan buku-buku paket bapak sudah khatam aku pelajari.

Jika ibu mengajariku tentang ilmu membaca dan berhitung, bapaklah yang mengajariku mengaji. Dari ngaji turutan sampai kitab Arab gundul. Walaupun akhirnya aku tidak bisa menuntaskan kitab Arab gundul karena harus kuliah. Bapaklah yang mengajari ilmu-ilmu agama. Memiliki bapak dan ibu seperti beliau membuat aku bangga. Dan aku harus membuat ibu bapak bangga kepadaku. Satu-satunya ya dengan prestasi di sekolah. Walaupun tidak pernah berhasil meraih peringkat pertama, setidaknya aku selalu berada di sepuluh besar. Ibu dan bapak paham anak desa sepertiku tidak sebanding dengan anak kota yang penuh fasilitas.

 

***

Ketika semua siswa sedang asyik masyuk membicarakan persiapan study tour ke Bali. Aku memilih menyingkir ke perpustakaan. Aku belum berani menyampaikan ke bapak tentang study tour ini. Biayanya tidak sedikit. Walaupun aku ingin sekali melihat rupa pantai Kuta dan Bedugul yang indah tapi besarnya biaya menyurutkan keinginanku. Aku tidak mau menyusahkan bapak ibuku. Lagi pula aku ingin sekali ikut bimbingan belajar di Kebumen di kelas tiga nanti, dan biayanya juga tidak sedikit.

“Begini saja, kamu pilih ikut ke Bali apa pilih ikut bimbel. Untuk urusan uang, nanti bapak carikan. Semoga panenan kali ini cukup buat itu.”

“Tapi kedua-duanya mahal biayanya, pak.”

“Lha makanya itu, bapak nggak bisa memenuhi kalau dua-duanya. Salah satu saja ya.”

“Nggak usah dua-duanya saja, pak.”

“Pilihlah salah satu. Kalau bapak sarankan, ambil yang bimbel saja, toh ke Bali lihat pantai, deket sini juga banyak pantai. Itu, pantai Ayah kan deket.”

“Iya, pak. Ikut bimbel saja.”

Memilih bimbel artinya jarak perjalanan semakin jauh, pulang semakin sore. Sampai rumah melewati waktu maghrib. Dan bapaklah yang selalu menjemputku. Setia dengan sepeda kumbangnya.

“Nggak baik anak gadis jalan sendiri jalan malam-malam.”

Aku tidak memiliki kata-kata lagi atas semua yang bapak lakukan untukku. Hanya mengangguk dan mengiyakan yang dapat aku lakukan.

 

***

Bapak masuk rumah sakit.

Kebiasaan merokok telah membuat bapak masuk ke rumah sakit. Kami sudah mengingatkan, tetapi tidak dihiraukan. Lingkungan para kyai terbiasa mengaji dengan asap rokok. Dan kini rokok itulah yang mengantarkan bapak terbaring di rumah sakit.

Sore itu ibu pulang tergesa-gesa dan menyuruhku segera ke rumah sakit menemani kakakku. Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Sesampai di rumah sakit, baru aku temukan jawabannya.

Bapak kritis!

Sedihku telah menguap berganti dengan kebencian pada rokok. Benci pada kebiasaan bapak merokok. Benci pada diriku sendiri yang tidak mampu menghindarkan bapak dari rokok.

Aku benci!!!

Aku benci!!!

 

***

Shalawat nariyah dan selamatan yang digelar ibuku dan keluarga besar ibu bapakku membawa keajaiban pada kondisi bapak. Dokter takjub pada progres kesehatan bapak. Beberapa hari kemudian bapak dipindahkan dari ICU ke bangsal dan kondisinya semakin membaik.

“Begitulah kekuatan doa, nak. Allah menyuruh manusia berdoa kepada-Nya karena Allah-lah pemilik segalanya. Kesehatan bapak milik Allah, kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Alhamdulillah Allah meridhoi dan masih mengijinkan bapak berumur panjang. Ibu masih ingin bapak nemeni ibu momong kalian. Sampai kalian mandiri. ”

Doa. Ya, doa!

Doa menjadi kekuatan. Doa menjadi pegangan bagi kita yang lemah. Kekuatan doa bisa mengubah takdir, nasib, atau ketentuan Allah karena Allah berkuasa dan berkehendak atas segala sesuatu.

 

***

15 tahun telah berlalu. Bapak masih sehat dan semoga senantiasa sehat. Walaupun tidak sekuat dulu, bapak masih mampu turun ke sawah. Dan diperbolehkan hanya mengerjakan pekerjaan yang enteng-enteng saja. Bapak termasuk orang yang tidak mau diam. Harus ada kegiatan. Umur bapak tidak bisa lagi disebut muda. 74 tahun sekarang. Berapapun, kesemuanya itu anugerah dari Allah. Semoga kebaikan dan keberkahan selalu dilimpahkan kepada bapak.

Bapak, walau anakmu ini kini jauh dari pandangan mata bapak, tapi percayalah, kebersamaan dengan bapak selalu tersimpan rapi. Dan bapak tetap menjadi lelaki terbaik, lelaki nomer satu dalam kehidupan anakmu ini. Tidak ada seorang lelakipun yang mampu menyaingi kedudukan bapak di hatiku. Semoga bapak senantiasa sehat dan bahagia.

Bapak, ijinkan aku mengganti peluhmu dengan lantunan doa di setiap sujudku

..robbighfrlii wali waa lidayya warhamhuma kamaa robbayanii soghiro..

 

Bapak dan senyumnya

DSC04340

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s