Kekasihku Menangis Tiga Kali [ajarfiksi #6]

Maafkan aku, sayang. Karena aku belum mampu menghidupimu, kamu jadi bekerja keras seperti ini untuk menghidupimu dan bekerja lembur sampai menginap di kantor” Suaranya pelan dan tertahan. Tone yang dalam berpadu dengan desah berat nafasnya menelusup di telingaku. Sejurus kemudian terdengar isaknya. Pelan, namun mampu menembus inderaku dan bersemayam di hatiku.

Ya, dia kekasihku.

Sejak bulan dua tahun lalu kami bersepakat untuk berkejaran menyelesaikan skripsi kami dan mengakhiri di akhir tahun dengan ritual sakral bernama pernikahan dan dilanjutkan dengan bulan madu di negeri atas awan. Ya, Tawangmangu, negeri indah di kota Karanganyar sejam dari Solo tempat aku merajut mimpi sekarang.
Nyatanya, sekarang sudah bulan empat di tahun yang berbeda. Dan aku sedang bergelut dengan deadline yang mengejar pekerjaanku segera rampung. Proyek buku dari pemerintah memiliki tenggat waktu yang tidak bisa ditawar. Dan kamilah para prajurit yang wajib menguras energi untuk bertempur dengan seluruh daya upaya untuk merampungkannya.
Dan kekasihku ada di ujung telepon sana, terisak pelan. Sungguh, bisa ku rasakan cinta yang sangat purna darinya. Hanya sekadar aku menginap di kantor dia begitu tersiksa akan rasa bersalahnya.
Ah, aku begitu mencintai kekasihku itu. Pun hanya sekadar sepekan sekali bertemu, atau beberapa jam bertemu karena hari minggu pun aku tetap lembur di kantor, tetap cukup mempertahankan aroma wangi kisah cinta kami. Cinta dua manusia yang terpisah 100 km. Cinta dari barat dan timur. Begitu dia menyebut cintanya.

 

***

Detik demi detik terus melaju hingga tahun kembali berganti.
Sudah dua tahun aku menemaninya menyelesaikan skripsinya. Sekadar menyemangatinya dengan sms dan telepon. Dan tidak pernah terlepas di ujung lantunan doa.

Dan lihatlah sekarang. Dia sedang duduk di barisan para wisudawan di atas panggung wisudawan. Senyumnya mengembang cerah. Haru kebanggaan menyeruak ke dadaku. Dia kekasihku sudah sarjana sekarang. Dan tinggal selangkah lagi kami akan bersama selamanya.

Aku dan sang adik yang menemaninya di ruangan wisuda bertepuk tangan dengan meriah ketika mereka turun dari panggung. Ayah ibunya sedang berangkat haji, bersama dengan ayah ibuku. Jadilah aku didaulat untuk menjadi pendamping wisudanya bersama dengan sang adik yang cantik. Adik dan kakak ini berguru di negeri para raja, kota yang dinaungi Gunung Merapi yang kokoh. Sekokoh cinta kita, begitu gombalnya setiap waktu.

Dan Merapi yang katanya kokoh dan tenang pun meletus. Diikuti meletusnya kisah cinta kami. Ketika aku menemukan sederetan email penuh cinta di akun facebooknya. Terkirim ke akun seorang wanita yang dia juga ada di list friend-ku. Temanku.

Duniaku runtuh. Lelaki yang begitu aku percayai, lelaki yang begitu aku cintai ternyata telah memiliki hati yang lain.

Tidak, dia tidak berpaling. Karena aku tidak merasakan perubahan sikapnya. Dia tetap penuh cinta, tatap matanya mengisyaratkan cinta yang sangat purna dan semuanya tetap seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda secara signifikan. Walaupun kadang ku rasa cemburu dengan beberapa nama yang dia sebutkan. Tapi dia selalu mampu meyakinkanku bahwa akulah wanita kedua yang dia sayangi setelah ibunya. Dan aku percaya. Sangat percaya.

Dan kini, dia menangis di depanku. Mengakui bahwa cintanya telah terpecah.

Tetaplah bersamaku. Aku tidak bisa tanpamu. Aku mengaku salah telah memasukkan nama lain di hatiku. Tapi aku hanya menginginkanmu. Itulah kenapa ada wanita lain tapi aku tidak pernah meninggalkanmu. Karena aku tidak bisa jika kehilanganmu. Sungguh, aku tidak bisa” Tangisnya pecah. Menampar kelunya bibirku yang tak mampu berucap. Memandangnya pun aku tidak mampu. Aku membisu.

Lalu air matanya jatuh ke hatiku.
Aku mengangguk saat dia memintaku memulai lagi kisah kami berdua dan hanya kami berdua. Tidak ada orang lain lagi dalam kisah kami. Cincin perak terpasang di jari manisku. Tanda cintanya terikat kembali di dadaku.

Dia bersiap ketika aku membawanya ke keluargaku. Ayahibuku menerima kekasihku itu menjadi keluargaku, pun kakak dan adikku. Ayahku meminta kami segera menikah. Pun menikah sirri tidak apa-apa. Tapi ibuku masih berkeberatan karena belum mapannya kekasihku. Aku paham dengan keberatan ibuku.

Dan kamipun kembali meneruskan kehidupan kami di kota kami masing-masing.

***
Waktu berlari dan terus berlari.

Dan kali ini aku hanya bisa berkata “Rejeki, mati, jodoh mutlak Allah pemiliknya. Kita sudah berusaha. Sungguh kita telah berusaha. Tetapi pemilik keputusan atas semua ini hanya Allah, dan kita tidak mampu mengubah keputusan itu. Biarlah waktu yang akan menunjukan, siapa jodohmu, siapa jodohku, siapa jodohnya. Berlari sejauh apapun, jika kita jodoh pasti bersatu. Diusahakan seperti apapun, jika kita tidak berjodoh tetap tidak akan bersama.

Ini kali ketiga kekasihku menangis.
Di ruang tamu rumah orang tuanya. 1 tahun 3 bulan setelah tangisnya yang kedua. Tangisnya kini tak mampu lagi menembus hatiku. Hatiku telah membeku dan membatu.
Sang istri, temanku yang cantik itu,  mengabariku pernikahan mereka 6 bulan kemudian.

 

Words : 750

———————————————————————
“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”
lomba blog cinta monumental

Advertisements

4 thoughts on “Kekasihku Menangis Tiga Kali [ajarfiksi #6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s