Kenalan dengan mbak Bell Palsy yang menyong-menyong

Seorang teman, Naomi, yang merantau ke negeri orang eh salah maksudnya ke kota orang, yaitu di jekardah sana, mengabarkan dia sedang dalam perjalanan pulang ke Solo. (Horeeee… Ayo Tih, kita tilik adek bayek). Kegembiraan kabar pulang kampungnya teman kuliah dan temen eror saya ini ternyata sekaligus membawa kabar yang kurang asyik darinya, dia terkena Bell Palsy.(* Ih, keren yah namanya)

Konon setelah melahirkan dia serumah berdua dengan suaminya dan si mungil Keyla. Sang suami bekerja sampai malam, sehingga segala pekerjaan rumah dilakukan Naomi sepulang kerja. Mencuci dilakukan malam hari setelah si kecil bobok. (*aku juga sering nyuci malam- gak ada yang nanya). Kata pak dokter inilah asal muasal kemungkinan si cantik Bell Palsy menyerang.

Lalu aku berangkat sowan menemui simbah Gugel.
Dan kutemukan artikel milik Mas dokter Rais di sini.
Taq kopas ya mas dokter Rais 

Mas dokter Bell Palsy itu apaaan sih?

Secara ilmiah Bell’s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis (saraf diwajah) akibat paralisis nervus fasial perifer (kelumpuhan saraf diwajah) yang terjadi secara akut (cepat) dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat (diluar otak dan saraf ditulang belakang) tanpa disertai adanya penyakit neurologis (saraf) lainnya. Bell’s palsy dapat menyerang umur berapapun tapi lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Gejala paling nyata wajah terlihat miring. Ketika senyum setengah wajah penderita Bell’s palsy tetap diam (tidak bisa tersenyum lebar). Orang-orang tua dulu menyebutnya sebagai penyakit akibat kena angin malam atau karena habis bertabrakan dengan makhluk halus. Bell’s palsy berbeda dengan stroke walau gejala kelumpuhannya mirip.

Menyong-menyong gitu ya bibirnya. Nek wong tuwo biyen kenek opo-opo mesti jawabe “kesambet”.
Nek pakde Tukul itu berarti mem-Bell Palsy-kan dirinya sendiri ya?
Trus apa penyebebnya koq bibir menyong-menyong gitu, mas dokter?

Bell’s palsy adalah penyakit autoimun, yaitu suatu keadaan dimana system imun menyerang tubuh kita sendiri. dalam hal ini, system imun menyerang nervus fasialis (saraf diwajah) sehingga menyebabkan kelumpuhan. Penyebab pasti autoimun tersebut masih belum diketahui (idiopatik). Akantetapi, ada beberapa hal yang diduga sebagai factor pencetus timbulnya Bell’s palsy.
– Virus Herpes simplex. 60-70% kasus Bell’s palsy juga diikuti dengan hadirnya virus herpes simplex.
– Kongenital. Bell’s palsy juga biasa nya terjadi karena bawaan lahir.
– Riwayat terpapar udara dingin secara terus menerus. Kebanyakan penderita Bell’s palsy memiliki kesamaan riwayat, yaitu pernah terpapar udara dingin secara terus menerus. Misalnya karena terpapar udara dingin karena setiap malam naik motor atau terkena angin AC secara langsung secara terus menerus.

Wah penyebab yang terakhir rodo marai aku galau. Lha aku sering berada di kondisi tersebut je. Di kantor AC seruangan ada 4, masih ada kipas angin berdiri di belakangku. Pulang malem, nyucinya juga malem. Trus bobo kalau nggak ada kipas angin nggak bisa tidur krn banyak nyamuk dan sumpek tidak ada sirkulasi udara di kamarku.
Tapi kata Naomi yang kata dokternya, Bell Palsy ini tergantung pada ketahanan tubuh individunya.
Semoga terhindar dari Bell Palsy.
Mari baca manteranya: pait… pait.. pait… [padakke tawon wae cah cah…]

Trus gejalanya apa saja pak dokter?

Awalnya biasanya terjadi kehilangan sensasi rasa pada lidah. Lidah terasa seperti ada yang menyelimuti. Pada anak 73% didahului infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin. Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitarnya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa
– Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh (lagophthalmos).
– Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bola mata berputar ke atas bila memejamkan mata, fenomena ini disebut Bell’s sign
– Sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis mendatar pada sisi yang lumpuh dan mencong ke sisi yang sehat.

Trus.. trus… biar pulih seperti sedia kala diapakan, dok?

Istirahat yang cukup. Seperti dikemukakan sebelumnya, 60-70% pencetus adalah virus, sementara virus bersifat self limiting disease (penyakit yang dapat sembuh sendiri jika kita memiliki system pertahanan tubuh yang baik).
– Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40 -60 mg/hari per oral atau 1 mg/kgBB/hari selama 3 hari, diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian), dimana pemberiannya dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit, gunanya untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Dasar dari pengobatan ini adalah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kelumpuhan yang sifatnya permanen yang disebabkan oleh pembengkakan nervus fasialis (saraf wajah) di dalam kanal fasialis (jalurnya) yang sempit. Kortikostiroid juga bersifat immunosupresan sehingga bisa menekan kinerja system imun. Mekanisme ini sesuai dengan penyebab utama bell’s palsy yaitu autoimun.
– Penggunaan obat- obat antivirus . Acyclovir (400 mg selama 10 hari) dapat digunakan dalam penatalaksanaan Bell’s palsy yang dikombinasikan dengan prednison atau dapat juga diberikan sebagai dosis tunggal untuk penderita yang tidak dapat mengkonsumsi prednison.Penggunaan Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah replikasi viru (penggandaan virus).
– Untuk perawatan mata dapat menggunakan air mata buatan atau menggunakan pelindung mata, seperti kacamata.
– Fisioterapi sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison, dapat dianjurkan pada stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot (kekuatan) yang lumpuh. Cara yang sering digunakan yaitu : mengurut/massage otot wajah selama 5 menit pagi-sore atau dengan faradisasi.
– Tindakan operatif umumnya tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menimbulkan komplikasi lokal maupun intracranial. Tindakan operatif dilakukan apabila tidak terdapat penyembuhan spontan atau tidak terdapat perbaikan dengan pengobatan prednison.
– Disarankan agar melakukan kompres air hangat disertai pemijatan pada bagian yang lumpuh pagi dan malam. Walaupun belum ada penilitian ilmiah terkait ini, tetapi pemberian paparan air hangat merupakan negasi (kebalikan) dari paparan udara dingin yang sering memapari penderita. Pemijatan juga berfungsi melatih gerakan-gerakan pada otot wajah. Sebaiknya juga melakukan menggerak-gerakkan wajahnya, seperti berlatih tersenyum, mengangkat alis ataupun menarik pipi ataupun alis.

Trus… trus… trus.. pencegahannya bagaimana, mas dokter?

– Hindari mandi di malam hari.
– Hindari kebiasaan langsung mandi atau mencuci muka sehabis berolahraga .
– Hindari terpaan angin langsung ke wajah, utamanya angin dingin.
– Perbaiki system pertahanan tubuh (system imunitas).

Trus.. trus… trus… trus.. berapa lama sembuhnya, mas dokter?

Walaupun tanpa diberikan terapi, pasien Bell’s palsy cenderung memiliki prognosis yang baik. Dalam sebuah penelitian pada 1.011 penderita Bell’s palsy, 85% memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. 15% kesembuhan terjadi pada 3-6 bulan kemudian.
Sepertiga dari penderita Bell’s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. 1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik. Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata. 1/3 sisanya cacat seumur hidup.

Waduuuhhh, ngeri juga ya bisa cacat seumut hidup.
Allah, lindungilah aku, anakku, keluargaku, orang yang aku sayangi dan orang yang menyayangiku dari Bell Palsy dan penyakit-penyakit lainnya. Jika kami tetap harus sakit, tetapkan sabar di hati kami dan segera angkatlah sakit kami serta jadikan sebagai peringan dosa-dosa kami.
Aamiin…

*Maturnuwun mas dokter Rais..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s