Rama [ajarfiksi #2]

Ting!
Suara ponsel di meja samping tempat tidur membuatku menoleh dari televisi yang sedang menampilkan serial FTV. Malam sudah begini larut mengapa masih ada orang yang terjaga dan menghubungi. Bukankah ini waktunya istirahat? Ah, persetan dengan sms! Aku mau menikmati malam ini, terjaga sendiri berteman televisi.
Ku pandangi Rama yang sedang terlelap di sampingku. Dia, lelaki yang membuatku… ah, bukan aku tidak mau mengakui aku jatuh cinta padanya, tetapi memang perasan ini bukan perasaan cinta. Bukan cinta seperti yang aku rasai kepada kekasih-kekasihku terdahulu. Perasaan ini sekedar biasa saja. Memang benar aku merasa nyaman di dekatnya. Betah telingaku mendengarkan kisahnya, tak bosan aku tertawa bersamanya. Tapi aku rasa ini bukan cinta. Benar, ini bukan cinta.
Pun begitu aku merasai bagaimana dia menyayangiku. Bagaimana dia memperhatikanku. Dia pula yang memberiku semangat ketika aku merasa limbung, ketika aku tak memiliki arah. Dia ada membersamaiku.
Apa dia mencintaiku? Aku tidak yakin.

Tatapanku menumbuk matanya yang mulai terbuka. Kulihat senyum di ujung bibirnya.
Belum tidur, say?” Aku menggeleng. Entah kenapa sejak sore tadi mataku enggan terpejam. Padahal pekerjaan yang sedang bertumpuk menguras tenaga dan pikiranku.
Aku teringat sesuatu. Kuambil ponsel yang ada di meja kuraih dan kuserahkan padanya.
Tadi ada sms” Kataku singkat. “Siapa tahu penting, tengah malam menghubungimu.
Rama duduk bersandar. Membaca sms dan kemudian meletakkan kembali ponselnya.
Tidak dibalas?
Tidak penting, ayo tidur lagi. Besok kamu harus berangkat kerja pagi kan?
Aku mengiyakan. Kutarik selimut yang akan melindungiku dari dinginnya AC kamar ini. Aku mendengar tarikan nafasnya yang teratur. Rama sudah kembali tertidur. Wajah tenangnya terpejam dalam buaian mimpi. Rasa penasaran merasukiku. Ku ambil ponsel Rama. Menelusuri smartphonenya menuju inbox sms. Aku menemukan sms terbaru di posisi paling atas.

Yang, aku tidak bisa tidur. Nara dan Naya sudah tidur. Malam ini tanpamu aku merasa sepi.
Lekas pulang ya, aku menunggu pelukmu.
I love you, suamiku.

 

***
Bagaimana kabar Nara dan Naya? Sehat?” Sore ini matahari menelusup atap rumbai di saung resto tempat favorit kami bertemu. Rama mengangguk sambil meminum jusnya.
Biasalah, anak-anak balita, sebentar akur sebentar berantem.”
Aku mengambil sepotong roti bakar dan mengunyahnya perlahan.
Nara itu cowok tapi penakutnya minta ampun. Hanya sama anak ayam saja dia sudah menangis menjerit-jerit” Aku terbahak. Aku sudah bertemu Nara sebelumnya. Si bocah dua tahun itu sedang lucu-lucunya bertingkah. Aku sering terpingkal dengan gayanya yang menggemaskan.
Nara takut dengan ayam tapi sama teman yang lebih gede berani berantem. Kemarin pulang dari rumah tetangga wajahnya lebam. Kata tetangga ditinggal sebentar ke belakang, eh mereka berdua sudah saling pukul karena rebutan mainan.” Sudah sering kudengar cerita anaknya berantem sebelumnya, aku tidak terlalu kaget. Ayahnya sibuk kerja di luar rumah, sang ibu repot dengan bayi mungilnya. Wajar jika Nara tidak mendapat perhatian yang cukup.
Nakalnya turunan dari bapaknya.” Kataku sambil tertawa.
Iya kali yaaa…
Perbincangan semakin menyenangkan, segala hal kami perbincangkan, seolah tidak kehabisan bahan. Pekerjaanku, pekerjaannya, keluarganya. Bukan hal yang tabu membicarakan keluarganya di depanku. Kami sepakat untuk tidak memasukkan urusan kami dalam urusan keluarganya.
Ting!
Rama mengambil ponsel di saku bajunya.
Istriku, dia sms nitip dibelikan jagung bakar. Tadi aku bilang mau ke sini.” Katanya sejurus kemudian, menjawab pertanyaanku yang belum sempat aku lontarkan.
Aku tidak berkomentar.
***

Mas, aku kangen Nara, aku main ke rumah ya?
Oke main saja, sms dulu istriku. Atau langsung saja ke rumah juga tidak apa-apa. Tapi aku pulangnya malam lho, say.
No problemo
***

Ting!
Suara ponsel di meja rias menghentikan obrolan kami yang sedang berdebat tentang kebijakan pemerintah. Rama berjalan mengambil ponselnya. Membaca sms dan langsung menelepon.
Iya.. iya.. aku pulang sekarang.
Aku masih berdiam di ujung dipan. Memindah-mindah chanel televisi.
Say, aku pulang dulu ya. Naya demam tinggi. Istriku panik. Aku harus pulang. Tidak apa-apa kamu menginap sendiri di sini? Besok pagi aku kembali ke sini. Aku tinggal tas dan bajuku di sini. Besok aku kembali. Aku janji!
Aku mengangguk. Dia mencium keningku dan berlalu.
***

Jam dinding berdetak menemaniku sendiri malam ini. Aku terbaring tanpa bantal. Menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih. Aku merasa ada yang salah dengan pikiranku. Kenapa aku tidak merasa bersalah atas apa yang aku lakukan. Sungguh, sama sekali tidak merasa bersalah. Aku tidak peduli dengan istri Rama yang sedang repot dengan dua anak balitanya. Aku tidak peduli dengan Nara dan Naya yang membutuhkan ayah yang baik untuk perkembangan psikologi mereka. Aku tidak peduli..
Bagaimana bisa aku seperti ini?
Apa hatiku sudah mati?
Apa hatiku sudah beku?
Apa aku sudah tidak takut dosa?
Apa aku sudah siap dikirim ke neraka?

Ada yang salah denganku. Ada yang salah. Pasti ada yang salah!

***

Istri yang baik itu, istri yang membuat hari-hari suaminya senang dan tenang. Istri yang baik mampu membawa suaminya dalam kebaikan. Peluklah kembali suamimu dan minta dia kembali padamu. Kamu ingin tahu segalanya? Mintalah suamimu untuk jujur. Dan keluarga kalian akan bahagia. Aku menyayangimu dan anak-anakmu.
Sms panjang aku kirimkan ke istri Rama.
Bukan tanpa pertimbangan. Aku sudah lelah bersandiwara. Aku sudah lelah dalam kehampaan. Aku tahu bahkan sangat tahu tidak akan pernah memiliki Rama. Karena aku memang tidak ingin memilikinya. Walaupun aku senang bersama Rama, tapi aku lebih senang Rama kembali ke keluarganya dengan purna. Mencintai istri dan anak-anaknya tanpa syarat. Menjadi pemimpin yang baik dan memimpin kelurganya.
Adaku hanya semakin menyesatkan Rama. Membuat Rama tidak sadar semakin menjauh dan semakin menjauh dari keluarganya. Dalam hal fisik mereka tetap bersama. Tapi racunku telah memasuki nadi darahnya. Seharusnya posisiku dimiliki oleh istrinya, tetapi aku tidak tau mengapa Rama lebih mendengar kataku daripada kata wanitanya.
Memang, Rama memintaku membersamainya agar dia tak sendiri menghadapi kehidupannya. Dia membutuhkan teman untuk mempertahankan keutuhan keluarga kecilnya. Aku, katanya, masih bisa menarik dia tetap berada di rumahnya. Tidak lagi mudah jatuh di pelukan wanita.
Istrinya sudah dua kali mengetahui affair dengan dua wanita sebelum Rama dekat denganku. Aku pikir tidak akan ada maaf jika kembali ada affair ke tiga. Apalagi jika affair itu bersamaku. Apalagi aku sudah terlalu jauh masuk ke rumahnya. Bahkan aku sudah begitu mencintai anaknya dan menjadi teman istrinya.
Aku harus mengambil keputusan.
Aku harus pergi!

Ya, aku harus pergi!
Rama harus bisa hidup tanpaku. Aku hanya bayang maya. Dan Rama harus hidup di dunia nyata. Dan dia laki-laki. Harus berani menapaki kehidupannya. Pun begitu aku, aku harus memulai kehidupanku yang sesungguhnya. Bertanggungjawab atas masa lalu dan menghadang masa depan.
Pun jika harus sendiri.
***
Rama marah besar.

Aku sudah mempersiapkan diri. Ini kehidupanmu. Hadapilah!
***

Di bawah Al-Qur’an aku sudah bersumpah. Di bawah kaki anak istriku aku berjanji. Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik. Aku tahu berat rasanya meninggalkanmu, tetapi benar katamu, aku harus hidup dalam kehidupanku sendiri.
Lorong RSJD membisu. Diam tak bergema. Aku membaca kesungguhan dalam kata-kata Rama kali ini. Aku tahu dia memang pendusta, tapi sejauh ini aku bisa membuatnya mengatakan hal yang sebenarnya. Kepadaku. Entah kepada yang lainnya.
Kamu tidak sakit. Kamu sehat. Kamu tidak perlu berada di tempat ini. Ayo kita pulang. Aku antar kamu pulang ke kosmu.
Berada di sini tidak berarti aku sudah gila, Mas. Aku masih bisa ke sini sendiri. Artinya otakku masih waras kan? Aku juga masih bisa pulang sendiri.” Aku tersenyum. Masih saja dia khawatir denganku. Ah, tidak perlu kau mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja.
Aku melepas kepergiannya dari halaman RSJD. Dia akan pergi ke Jakarta bersama anak istrinya untuk urusan pekerjaan. Aku tahu aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Aku sudah siap kehilangannya.
Pergilah, aku baik-baik saja.
Sekantong obat antidepresan aku masukkan ke tasku.
***

Waktu semakin berlalu…
Lama aku tidak membuka email khusus yang dulu sering aku gunakan untuk berkirim kabar dengan Rama. Jariku mengarah ke namanya yang masih tercetak tebal. Dia mengirim email dua hari yang lalu.

Sungguh, aku tidak bisa melupakanmu.
Aku sudah kembali.
Masih maukah kau menemani malamku?

Aku tandai pilihan: Yes, I want to delete my account permanently…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s