Melati Menanti [ajarfiksi #1]

Mataku masih lekat menikmati putih melati yang sedang mesra bercengkerama dengan daun-daun hijau di rimbunan bunga-bunga di bawah jendela kamarku. Dari sekian banyak jenis bunga yang ditanam kakakku, hanya melati yang benar-benar memaksa mataku mengacuhkan warna-warni bunga yang lain. Melati begitu putih, suci, ah… dia begitu mesra. Kata orang mawarlah yang paling mewakili perasaan cinta. Dan mereka begitu mencintai mawar. Namun, cintaku untuk melati lebih besar. Aku tidak tahu sejak kapan aku begitu jatuh cinta pada melati. Sungguh, aku benar-benar cinta!
Jendela kamarku menjadi tempatku bercinta dengan melati-melati itu. Begitu banyak waktu kuhabiskan di tepi jendela. Ah, aku benar-benar lupa waktu saat berbincang dengan mereka. Mereka jiwaku. Aku tidak ingin terlepas darinya. Melati….

Teng… teng… teng…
Lamunanku pecah disambar denting jam dinding kamarku. Aha, jam tujuh sudah. Sebentar lagi dia akan melintas di depan rumahku. Di depan jendela kamarku. Siapa dia? Entahlah aku tidak tahu. Yang aku tahu, dia melintas di jalan depan rumahku setiap jam tujuh pagi dari belokan depan sana sampai hilang belokan satunya lagi. Aku tidak tahu dimana rumah dia, mau kemana dia apalagi siapa nama dia. Entah kenapa aku selalu menunggunya di sini,  di tepi jendela kamarku bersama melati-melati cintaku. Setiap pagi. Ya, setiap pagi!
Itulah kenapa aku makin mencintai jendela ini.
Mataku memanah ujung jalan. Di belokan sana sebentar lagi mentariku akan terbit.  Ah, rasanya aku begitu mencintainya. Mencintai kedatangannya. Aku seperti orang bodoh kalau sudah seperti ini. Aku tidak pernah tahu dia, tidak mengenalnya dan tentu saja dia juga tidak mengenalku. Bagaimana bisa  kenal, bahkan sampai sekarang wajahnya saja aku belum pernah melihatnya. Bodoh sekali bukan? Tapi biarkan hatiku menyapanya. Tanpa kata-kata, tanpa cerita, tanpa suara. Aku tidak ingin memilikinya, aku hanya mencintai kedatangannya.
Mataku masih bersemangat menantinya. Kulirik cepat jam dinding yang tergantung manis di dinding kamarku. Sudah lewat 15 menit. Kenapa dia masih belum datang juga. Apakah dia tidak akan lewat? Tidak! Dia pasti akan lewat. Sebentar lagi. Bersabarlah!
Brmmmm…. Brrmmm…
Aku terlonjak mendengarnya. Dia datang… dia datang… lihatlah dia. Dia masih sama seperti sebelumnya. Motor  Thunder hitam, lengkap dengan helm hitam serasi dengan penampilannnya pagi ini. Setelan hitam. Jaket hitam, helm hitam, slayer hitam, semuanya serba hitam. Dia terlihat sangat gagah. Sangat gagah! Dia jadi seperti ksatria baja hitam. Aha, aku menemukan nama untuk dia. Ksatria baja hitam! Semoga Kitaro Minami tidak marah namanya kupakaikan untuk dia.
Mataku lekat mengikutinya. Dari ujung jalan sana melewati depan rumahku dan hilang ditelan belokan jalan.
“Mel… Mela, Mba berangkat kerja dulu. Kalo mau sarapan dah Mba siapain di meja makan.” Teriakan khas Mba Nia –kakakku satu-satunya-membangunkan kerja otakku yang sempat heng karena dia. Oh iya, kami hanya berdua di rumah ini. Kecelakaan mobil itu mengantarkan ayah dan ibu menghadapNya.  Mba Nia bekerja di rumah sakit sebagai apoteker. Dialah yang menopang hidupku.
Kulirik lagi jam dinding yang masih setia berdetak mengabarkan waktu. Jam setengah delapan. Aku kursus komputer siang nanti. Masih lama.
Sendiri. Ada sepi yang menyeruak memenuhi rongga kalbuku. Jalanan pun lengang. Sudah tidak ada anak-anak SD yang berlarian berkejaran di jalanan depan rumahku. Di rumah ini terlalu banyak sepi. Bagaimana lagi, kami cuma berdua. Kunikmati sajalah. Toh masih ada melati yang menemaniku.
Ku ambil buku diktatku. Tanganku menggapai radio di samping dipan. Ku cari stasiun radio kesayanganku. Ukhuwah FM. Aku begitu setia dengan radio ini. Semua session acaranya aku suka. Ada pecerahan-pencerahan baru yang kudapat dari radio ini. Kadang aku merasa malu, aku sering tertohok kata-kata mutiara di dalamnya. Memang sih sholatku tidak pernah absen, tapi masih saja jauh tertinggal dari mereka-mereka.
“Selamat pagi sahabat Ukhuwah FM. Apa kabar hari ini? Semoga kita semua selalu dilimpahi karunia dariNya dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Bersama sahabat siar  anda ini, mari kita bersama menuju kebaikan.” Suara khas penyiar Ukhuwah FM yang satu ini selalu membuatku betah berlama-lama di depan radio. Seperti suara ayah! Aku jadi kangen ayah. Kadang ada keinginan untuk main ke Ukhuwah FM. Sekadar ingin tahu seperti apa dia dan para penyiar lainnya. Mengobati penasaranku. Tapi, terlalu jauh jaraknya. Sudahlah, biar saja aku tidak tahu, biar aku tidak membayangkan wajah-wajah mereka saat mereka siaran. Cukup suara khas mereka yang menemani sepiku.
* * *

Siang ini terik begitu menyengat. Sang surya begitu semangat berbagi panas dengan bumi ini. Semua awan dicairkan dengan tatapan matanya, langit benar-benar biru. Biasanya noda-noda hitam oleh burung-burung menyusun jerawat kecil di langit yang bersih, kini tak ada. Mungkin mereka lebih memilih bersenda gurau di balik rimbunan dedaunan yang ramah. Pasti lebih menyenangkan daripada mengepakkan sayap menantang matahari.
Aku bergegas menyeberang jalan. Jalan-jalan di kota Solo begitu padat dengan kendaraan. Semuanya berpacu mengejar waktu. Menghiasi langit Solo dengan polusi. Halte sepi. Mungkin orang-orang malas pergi dengan cuaca seterik ini.
Mataku menatap lurus ke depan. Menikmati suasana kendaraan-kendaraan yang bersliweran di depanku. Sapu tangan putihku sudah menempel manis di depan hidungku. Solo penuh polusi. Andai semua sadar akan bahaya polusi, pasti kota ini akan lebih menyenangkan.
Aku terhenyak, mataku menangkap bayang dia. Lampu merah traffic lamp memaksa dia berhenti tepat di depanku. Aku begitu mengenalnya. Motor Thunder hitam dan kostum serba hitam. Ksatria baja hitam! Imajinasiku melayang ke film kesukaanku saat aku masih kanak-kanak itu. Membayangkan dia jadi pahlawan yang selalu datang saat aku memanggilnya.
Stop! Kenapa  malah melamun!
Lampu hijau menyala, diapun melesat menjauh dari pandangan mataku. Kapan aku bisa tahu siapa dia sebenarnya. Kulambaikan tanganku pelan saat bisa Nusa C berjalan melambat ke halte tempatku berada. Bis ini yang akan mengantarkanku ke tempat kursusku
Bayangan ksatria baja hitam masih membekas di mataku.
* * *

“Mel, kamu tuh kenapa to? Kok belakangan ini Mba liat kamu sering ngalamun. Ngalamun ki ndak apik Mel. Kalo ada jin iseng yang lewat bisa-bisa dia masuk ke badanmu. Kamu jadi kerasukan jin. Kamu mau diruqyah?” tanya Mba Nia saat makan malam.
“Diruqyah apa to Mba?” tanyaku. Aku pernah mendengar istilah itu di radio Ukhuwah FM tapi aku lupa artinya.
“Ruqyah ki, mengeluarkan jin dari badanmu itu. Lha wong kamu kesringen ngalamun. Nggawe jin-jin iseng podo ngesir kamu.”
“Mela nggak ngalamun kok Mba,”
“Udah, ndak usah ngeles. Mba sering liat kamu lagi bengong di jendela kamarmu setiap pagi.” Keningku berkerut, Mba Nia kok tahu?
“Mela cuma merhatiin melati di bawah jendela kok Mba,”
“Melatinya kan dibawah jendela, bukan di ujung jalan,” Aku terhenyak. Kutatap wajah Mba Nia. Dia tersenyum. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Kepala ini rasanya menjadi sangat berat untuk mendongak.
“Mba tahu kok. Maaf, Mba sering masuk ke kamarmu tanpa kamu tahu. Lha kamu konsen banget nunggu ksatria baja hitammu lewat,”
Deg…! keterkejutanku belum selesai juga. Aku makin membisu.
“Sudahlah Mel, nggak usah panjang angan. Ndak baik. Toh kamu ndak kenal dia, ndak tahu dia dan diapun ndak peduli sama kamu. Jangan banyak berangan-angan, panjang angan itu pintu masuk setan. Sudah sana, belajar ya,” Ah, Mba Nia benar-benar menjelma sebagai ibu. Ibu, aku kangen! Sungguh!
Kubereskan meja makan dengan gaungan kata-kata Mba Nia di telingaku.
* * *
Lembayung jingga mewarnai  langit. Warnanya membuat langit tampak indah mengantarkan sang surya kembali ke peraduannnya. Kursus siang mambuat pulang kesorean. Kulangkahkan kakiku menyusuri gang menuju rumahku. Banyak genangan air sisa hujan siang tadi.
Kudengar ada suara motor di belakangku. Memaksa mataku menoleh. DEG!!! Kurasakan jantungku berhenti seketika. Ada ksatria baja hitam beberapa meter di belakangku. Keringat dingin menetes dari wajahku. Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini. Takut, resah, semua perasaan semua lebur jadi satu. Baru kali ini dia berada dekat denganku. Aku seperti orang bodoh! Kenapa aku harus se-salah tingkah ini.
Kupercepat langkahku, sehabis belokan di depan aku bisa mengambil jalan pintas. Langkah kakiku semakin panjang. Rasanya aku ingin berlari melewati belokan itu dan segera menghilang dari pandangan dia. Entah mengapa kaki ini benar-benar ingin berlari. Padahal setiap pagi aku menantinya di jendela kamarku.
Belokan itu semakin dekat. Langkahku sudah setengah berlari. Motor dia semakin dekat di belakangku. Persis di belakangku. Aku kalut.
Tiba-tiba kulihat dari arah berlawanan ada mobil kijang yang berjalan pelan berbelok di tikungan itu.
Aaaaa….
Aku tersungkur. Ban motor dia menabrakku. Kudengar jelas motor dia roboh tepat dibelakangku. Pengemudi mobil itu keluar dari mobilnya.
“Ma… maaf Mas, saya nggak tau kalo ada motor Mas,”
Aku menoleh. Kulihat ksatria baja hitam itu jatuh tersungkur tertindih motornya. Aku masih terduduk. Kakiku tidak bisa digerakan. Aku hanya meringis menahan sakit. Ingin aku menolongnya, tapi apa daya, aku tak kuasa.
Pengemudi mobil membantu dia berdiri. Motornya sudah berdiri. Aku tahu pasti rasanya sangat sakit. Sudah jatuh, tertindih motor sebesar itu pula. Aku hanya bisa memandanginya iba.
Dia tertatih mendekatiku. Kualihkan pandangan mataku darinya.
“Ukhti nggak apa-apa?” Aku nyengir mendengar pertanyaannya. Kalau aku tidak apa-apa, pasti aku sudah berdiri dan  ikut menolongnya. Sebentar, suaranya sepertinya sudah tidak asing lagi. Dimana aku pernah mendengarnya ya?
“Ada yang terluka Mba?” tanya laki-laki pengemudi mobil.
“Kakiku tidak bisa digerakkan, mungkin keseleo,” jawabku pelan.
“Rumah Mba dimana? Nama Mba siapa?” tanya pengemudi mobil.
“Rumahku di belokan depan,”
“Nama Ukhti?” Aha, dia menanyakan namaku. Mimpikah? Lagi-lagi dia memanggilku ukhti, pantaskan jilbab sekecil ini digelari ukhti?
“Melati,” jawabku singkat.
“Mas, ayo bantu mapah dia ke mobil, kita bawa ke rumah sakit saja. Mas nggak apa-apa khan?” Apa? Aku akan dipapah dua orang laki-laki ini? Tidak! Aku tidak mau disentuh laki-laki yang tidak kukenal.
“Jangan! Panggilkan Mba saya saja. Rumah saya yang bercat hijau itu,” kataku sambil menunjuk ujung jalan.
“Biar saya saja yang ke sana,” kata dia. Sambil tertatih dia berjalan ke rumahku. Sekarang bisa kulihat jelas dia. Badannya tegap, tingginya semampai. Sayang, aku tidak jelas melihat wajahnya. Dia selalu mengalihkan pandangan matanya dariku. Padahal hampir setahun ini aku ingin tahu sepeti apa dia.
Setengah berlari, Mba Nia menujuku.
“Mel, kamu ndak apa-apa?” Lagi-lagi aku nyengir mendengar pertanyaan itu lagi.
“Kakinya tidak bisa digerakan Mba, kita gotong ke mobil saja. Kita bawa ke rumah sakit.” kata pengemudi mobil itu. Aku bete! Perasaan yang nabrak aku dia, tapi kenapa justru yang lebih care malah pengemudi mobil itu. Dia malah diam saja. Menyebalkan!
“Nggak usah, kita pulang ke rumah aja Mba,” jawabku dengan nada bete. Mba Nia memapahku masuk mobil. Dia masih diam saja.
* * *

Dia dan pengemudi mobil itu sudah pergi beberapa menit yang lalu. Sama sekali dia tidak menatapku. Hanya pandangan  yang sekilas-sekilas saja yang kudapat. Sombong sekali dia. Dia hanya mengulurkan sejumlah rupiah untuk berobat. Namun kutolak tegas. Aku masih hidup tahu!!!
Dan yang paling menyebalkan, dia tidak memperkenalkan dirinya. Aku tak sudi menanyakan namanya.
Aduh… Kakiku masih terlalu sakit untuk digerakkan. Mungkin benar-benar keseleo. Tak mungkin patah tulang, aku hanya jatuh saat tertabrak motor dia tadi.
“Mel, Mba ke tempat Bu Urip dulu ya, biar dia kesini ngurut kakimu itu. Mba ndak tega melihatmu kesakitan gitu. ”
Aku mengangguk. Sudah bisa kubayangkan bagaiamana rasanya diurut Bu Urip. Sakit!
Kulirik jam dinding ungu, jam 5 sore. Sudah setengah jam dia pergi.
Sepi.
Kugerakan badanku perlahan agar tanganku sampai ke radio di samping tempat tidurku. Mungkin Ukhuwah FM bisa mengurangi sakit di kakiku ini.
Aku tersenyum, penyiar kesayanganku sedang berkutat dengan  Ukhuwah senja-nya. Mungkin kali ini Ukhuwah FM memang akan menyembuhkanku.
“Sebelum kita lanjutkan Ukhuwah Senja kali ini, kami hadirkan nasyid dari Maidani yang berjudul Kaca yang Berdebu, untuk Ukhti Melati, syafakillah, semoga cepat sembuh,” suara itu…
DEG…!!!
Aku termangu.
Mba Niaaa….
* * *

Senja semakin memerah jingga, mataku masih lekat menatap ujung jalan. Kulirik jam ungu di kamarku. Jam 18.00, sudah hampir  maghrib. Kulihat melati-melatiku menari di bawah jendela kamarku. Bergemulai bersama angin sore yang lembut.
Aku menunggu dia.
Mataku memanah ujung jalan. Di belokan sana sebentar lagi ksatria baja hitamku akan datang.  Ah, rasanya aku semakin mencintainya. Mencintai kedatangannya.
Brrrmm…. Brmmm….
Aku terlonjak. Dia datang… dia datang… lihatlah dia. Dia masih sama seperti sebelumnya. Motor Thunder hitam, lengkap dengan helm hitam serasi dengan penampilannnya. Setelan hitam. Jaket hitam, helm hitam, slayer hitam, semuanya serba hitam. Dia terlihat sangat gagah. Sangat gagah! Ya, ksatria baja hitamku yang gagah telah datang! Senyumku mengembang.
Aku beranjak dari jendela kamarku. Segera kubuka pintu gerbang depan rumahku. Sesampainya dihadapanku, dia membuka helm  dan slayer yan menutupi sebagian wajahnya, kemudian mempersembahkan senyumnya yang penuh.
Kusambut tangannya, kucium pungung tangannya.
“Nanda mana Mi? Kok nggak kelihatan?”
“Sudah ke masjid, Mas. Tadi Nanda ngambek, abinya nggak pulang-pulang. Akhirnya dia berangkat sendiri.”
“Maaf Abi pulang terlambat, ada pekerjaan mendadak,” jelasnya sambil tersenyum arif. Aku mengangguk. Bersama dengan anggukan melati yang tertiup angin. Mereka pasti tahu, aku bahagia!
Allohu akhar…. Allohu akbar…
Suara adzan Nanda dari masjid ujung gang terdengar jelas. Mengajak untuk segera menghadap dan bersujud ke hadapan khaliknya.
Langit senja semakin jingga.
* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s