Ah Tenane – Kesregepen Umbah-umbah

*dimuat di solopos (entah tanggal berapa, nggak langganan koran. Tau dimuat karena ada wesel datang ke rumah)

*naskah asli, nggak tau yang dimuat diedit kayak apa. Penting dimuat  😀

———————

Kesregepen Umbah-umbah

 

Jon Koplo sedang bersiap-siap berangkat makaryo. Istrinya, Lady Cempluk, sedang menyiapkan sarapan bobor mbayung dan tempe bacem kesukaan suaminya. Hari ini anak lanangnya libur sekolah dan masih angler di kamar.  Jadi Lady Cempluk lebih santai, tidak mruput seperti biasanya.

 

“Pakne, sarapan sudah siap.” Panggil Lady Cempluk. Jon Koplo datang masih memakai kaos singlet, belum memakai seragam hari ini. Sumuk, katanya. Sambil nemeni suaminya sarapan dan ngobrol ngalor ngidul, Lady Cempluk mengumpulkan baju-baju yang akan dicuci. Mengambil di gantungan-gantungan baju. Suaminya memang hobi gantung baju kotor, tidak ditumpuk di ember cucian. Biar tidak pating umbruk, katanya. Tapi ya sama saja, baju-bajunya jadi pating cemrentel. Seragam-seragam segera diambil dan baju-baju harian yang kotor diambil Lady Cempluk langsung direndem detergen di ember.

 

Jon Koplo tampaknya sudah selesai sarapan, Lady Cempluk segera mengambil piring kotornya. Jon Koplo beranjak masuk ke kamar untuk bersiap-siap.

“Buuu…. Buneee..” Terdengar panggilan Jon Koplo. Lady Cempluk segera menuju kamar.

“Opo, Pakne?”

“Seragamku putih biru mana? Tadi tak cantelke di sini.” Kata Jon Koplo sambil menunjuk gantungan baju samping lemari.  Lady Cempluk kaget sekaget-kagetnya. Sudah tidak ada baju lagi di situ. Sudah diambil tadi.

“Waduhhh Pakne. Bajunya tadi aku ambil mau dicuci.”

“Lha mana? Sini ambil lagi mau aku pakai.”

“Bajunya sudah direndam, Pakne.” Lady Cempluk terdiam.

Jon Koplo kaget bukan kepalang.

“Blaik, ciloko iki… HRD lagi galak je…”

 

Lady Cempluk merasa sangat bersalah. Dia babar blas tidak tahu seragam-seragam suaminya. Wong tiap hari ganti warna seragam dan mirip-mirip semua warnanya. Lady Cempluk mulai misek-misek.

 

Uwis to, Bune. Tidak apa-apa. Nanti jaketnya di kantor tidak usah dibuka kan tidak konangan kalau tidak pakai seragam.” Mendadak Lady Cempluk berdiri dan menuju lemari. Dia membongkar bungkusan baju yang sudah tidak terpakai.

“Pakai ini aja ya, Pakne. Aku setrika dulu ya.” Kata Lady Cempluk sambil menunjukkan baju yang baru diambilnya. Untunglah ada seragam lama dengan warna dan model  yang sama, hanya tulisan di bordiran saja yang berbeda.

 

————-

*semoga tulisan lain ikut segera nyusul nongol di media

*mari belajar menulis ^_^

Advertisements

Hantu Rambut Panjang

Sebagai seorang ibu, istri, mantu, sekaligus karyawan, aku harus bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Aktivitas sehari-hari cukup padat, sepadat jalanan kota Solo di pagi hari. Berangkat kerja jam tujuh pagi dan kembali pulang jam empat sore atau jam enam sore badai lembur mulai melanda.  Belum lagi cita-cita sebagai pahlawan dengan pahlawan tanpa tanda jasa memaksa egoku untuk meluangkan waktu bercengkrama dengan PR dan rumus-rumus yang sudah tidak terjamah sejak 15 tahun yang lalu. Yap, menemani tiga gadis imut yang masih duduk di bangku SMP untuk belajar. Atau sekadar minta dikoreksikan PR-nya.  Jam 9 malam baru bisa memulai pekerjaan rumah seperti membaca, menulis dan menonton televisi. Eh maaf, maksudku pekerjaan ala pembantu di sinetron Indonesia.  Nginem mania mantap!

 

Jika tidak ikut tertidur setelah ngeloni Fatih, maka acara selanjutnya adalah mencuci atau menyetrika atau memasak atau kombinasi beberapa diantaranya. Oke, acara malam itu adalah malam mencuci. 2 ember. Seragam dan baju harian selama 3 hari. Oke, siapkan peralatan tempuuurr.

HP dan headset.

 

Haha… Benar, setiap kali mencuci malam maka telinga akan aku sumpeli dengan headset, denger radio, lagu atau menelepon kawan lama. Kali ini sudah terlalu malam untuk menelepon kawan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, jadi aku memilih mendengarkan musik saja.

 

Mmmm… pasti kalian akan membayangkan aku sedemikian rupa sebagai makhluk ajaib yang sedang pakai daster, ngucek baju dan berheadset sambil karaoke. Sungguh, aku sedang tidak menyanyi, aku juga sedang tidak ingin konser malam ini. Aku hanya ingin menghalau desau angin dan membunuh senyapnya malam.  Oh iya, aku nggak pernah pakai daster di rumah. Ribet.

 

Oke, sepertinya perlu aku deskripsikan suasana tempat mencuciku. Rumah bagian belakang bagian yang diberi atap hanya kamar mandi dan tempat mencuci.  Sedang sisanya beratap langit gemintang atau bulan bersama awan. Ada tembok tinggi di sekeliling pekarangan, jadi tidak perlu khawatir ada maling masuk ke belakang rumah.

 

Dingin? Tentu saja, kalau sedang musim dingin.

Horor? Tentu saja kalau sedang musim horror.

Musim horor?

 

Begini, di perkampungan sebelah sono. Dulu ada bekas rel kereta tebu, sampai sekarang rel itu masih ada dan tidak bisa diganggu gugat. Entah apa maksudnya, yang jelas tempat itu menjadi tempat yang wingit alias serem. Jika jam di dinding sudah melewati angka 12 malam, akan terdengar suara seperangkat gamelan yang ditabuh, tanpa sinden. Tetangga ada yang nanggap wayang? Kalau nanggap wayang tentunya ada suara tuk dalang, eh salah, pak dalang maksudnya. Bukan. Ini hanya suara gamelan saja, dan pastinya tidak bakalan ada sekelompok tukang gamelan yang latihan di tengah malam.

 

Aku sih biasa saja. Toh ya cuma suara, nggak ada penampakan apa-apa. Apalagi posisinya nun jauh di kampung sebelah sana. Tidak perlu takut lah. Suara itu juga sudah familiar untuk warga di sini. Anggap saja lagi denger radio. *tambah volume headset

Katanya, sekali lagi katanya, tantenya Fatih yang rumahnya di belakang rumahku itu pernah didatangi genderuwo. Konon pada jaman dahulu kala, ada pohon beringin di pekarangan belakang. Karena lahannya dipakai untuk rumah Tantenya Fatih maka ditebanglah pohon beringin itu. Suamiku pernah bilang, kalau tiba-tiba ada bau kentang dibakar itu tandanya ada genderuwo lagi makan.

*Tambah lagi volume headsetnya, eh ini kan bau bukan suara. Oke, jepit hidung pakai jepitan baju.

 

Ah sudah, itu hanya hantu-hantu katanya. Katanya dan katanya.

Kali ini aku yang akan bercerita.

 

Malam itu aku asyik masyuk bercengkrama dengan baju kotor, air dan deterjen. Suara merdu Agnes Monica dengan lagu Rindu semakin membuatku larut dalam romansa malam menjelang dini hari.

Tiba-tiba….

Darahku berdesir, bulu kudukku berdiri. Hawa dingin menusuk kulitku. Di ujung mata aku melihat ada sesosok tubuh besar, hitam dan berambut panjang berdiri di belakangku. Kulihat sekilas dia tidak berbaju, tidak berbulu, rambut panjangnya tergerai berantakan. Diam tidak bergerak.

Aku tidak boleh takut!

Aku tidak boleh takut!

Aku tidak boleh takut!

Aku ingat pesan temanku,  hantu itu berasal dari api, air akan mengalahkannya. Perlahan aku ambil gayung yang ada di bak air sebelahku sambil terus berjuang sekuat tenaga menahan ketakutanku.

Aku harus melawan!

Dengan sekuat tenaga aku berbalik dan kusiramkan segayung air ke arah makhluk di belakangku.

“Aduh, basah semua ini!  Katanya tadi minta ditemenin nyuci, eh dah ditemeni malah disiram!”

 

Nilai moral dari cerita ini: Kalau pakai headset volumenya jangan terlalu keras, nanti bisa merusak indera pendengaran.

 

[Cerita Hijab Pertamaku] Rambut awut-awutan? Pakai Jilbab saja!

Digital image

 (Bersama Teman di Tawangmangu -2011 )

Suer, kali pertama niat yang terpikirkan dari kata jilbab adalah buat nutupi rambut yang awut-awutan dan susah diatur ini. Kala itu diriku masih awal-awal berseragam abu-abu. Rasa keren memakai segaram sekolah baru hanya berlangsung sekejap. Perjalanan dari rumah menuju sekolah hampir satu jam, dari berjalan kaki dari rumah ke jalan raya, naik bis dan berjalan lagi dari terminal ke sekolah. Tentu saja membuat penampilanku lusuh apalagi rambut yang gampang sekali berantakan.

Beberapa teman membawa sisir, bedak dan lipbalm di tas sekolah mereka. Bagaimana dengan aku? No, way! Aku bukan wanita pesolek. Tidak dandan saja aku sudah cantik, kalau dandan bisa-bisa banyak yang kepincut dengan diriku ini (*bohong). Bukan, bukan begitu. Aku memang tidak suka berdandan. Keinginan bapak punya anak laki-laki ternyata berefek ke kepribadianku, juga penampilanku.

Satu permasalahan yang bikin aku gedeg adalah rambutku yang super duper lurus susah diatur ini. Apalagi simbokku penganut paham “Jika bisa dilakukan sendiri kenapa mesti keluar uang” jadilah setiap potong rambut, ibuku yang menjadi juru potong rambut. Dan tentu saja modelnya sesuka hati simbokku. Dan nggak gaul banget. *hihihi…

ROHIS sekolahku ada program jilbabisasi, itu tuh program buat bantu siswa yang pengen berjilbab tapi belum ada dana.  Sebenarnya minta uang ke simbokku bisa, tapi aku sudah kadung beli seragam pendek jadi pastinya simbokku akan menolak. Jadilah aku mendaftar ke mbak-mbak Rohis ikut program keren itu. Aku masih ingat saat itu, tahun 1999, aku dapet uang 50ribu, baju seragam pantas pakai dan beberapa jilbab sumbangan dari donatur.

Daaan dengan berjilbab, masalah rambutku selesai!

Nggak perlu sisiran langsung iket ini rambut, lalu pakai jilbabnya. Beres dan cantik!

Ssssstttt.. aku pakai jilbab saat ke sekolah saja. Sampai rumah lepas jilbab dan kembali dengan seragam harian: kaos pendek dan celana pendek . Soalnya tiap hari aku ke kebun, nggak keren kan ke kebun pakai rok? *alasan 😀

Sampai ada satu kejadian yang bikin aku maluuuu banget.

Aku punya guru yang masih satu kecamatan denganku. Pak guru yang tampan itu ternyata sering main voli di desaku. Saat itu aku sedang belanja di warung deket lapangan. Dan tararaaa… bertemulah dengan pak guru. Mau tau komentarnya?

“Pak guru pangling, biasanya pakai jilbab koq ini nggak pakai. Cantik pakai jilbab lah. Dipakai ya jilbabnya.” Rasanya pengen lari lalu ngumpet di dasar kali dan nggak nongol sampai pak guru pulang voli lalu aku pindah sekolah ke Jakarta *lebay!

Setelah kejadian itu, aku memulai era baru berjilbab dengan benar. Memakai jilbab tidak hanya di sekolah saja. Membenahi pola pakaian, pola tingkah laku, pola bicara dan tentu saja pola pikir sebagai seorang muslimah. Walau tomboynya tetep nggak bisa hilang. *maklum bawaan orok

Karena ikut program Rohis, aku juga sering diajak pengajian di masjid sekolah dan ikut kegiatan-kegiatan Rohis. Sampai menjadi anggota Rohis dan ikut membantu kegiatan keislaman di tingkat sekolah. Dan semakin banyak belajar tentang berjilbab, maka semakin mantap menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah. Menutup aurat.

Berjilbab adalah wajib bagi semua muslimah, dan khusus untukku berbonus nggak repot merapikan rambutku yang awut-awutan.

Alhamdulillah…

 

Artikel ini diikutsertakan  dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway” 

GA jilbab

Tiwul, Penganan Lintas Zaman

Hai teman-temanku yang manis, aku mau berkisah tentang tiwul, nih. Simak yaa…

Pada zamaaaan dahuuuluuuu… (*maap, kebanyakan nonton pilem kartun)

Dulu di sini sudah pernah aku postingkan mengenai tiwul. Silakan dah diubek-ubek postingan lama tentang si Tiwul. Kali ini masih pengen mengangkat tema dunia persilatan pertiwulan.

Aku kenal tiwul ya di Solo. Kalau di daerahku, negeri kebumen sana, namanya bukan tiwul, tetapi inthil. Nama yang lucu ya. Apapun namanya, bahan dan cara pembuatannya sama. Dan tentu saja sama-sama enak. Saking kangennya sama tiwul, bau semerbak bunga kuning pohon Angsana yang gugur di negeri UNS bisa-bisanya beraroma tiwul (ada yang salah dengan ini hidungku kali ya?). Benar-benar menjadikanku semakin merindukan tiwul, makanan yang sudah belasan tahun aku tidak melahapnya. Terakhir aku menikmatinya saat masih SMP (saat masih puber) sampe sekarang sudah SMT (semi tuwo). Hihihi…

Eits, tunggu dulu. Aku belum mengisahkan kenapa aku mengambil kisah tentang si tiwul ini. Jadi, ceritanya, aku tuh sukaaaa banget sama tiwul. Dan kebetulan ibu mertuaku beberapa bulan yang lalu mulai menambah dagangannya yaitu si tiwul manis. Kebayang dong rasanya makan tiwul anget-anget yang baru diangkat dari panci kukusan. Uapnya masih ada kebul-kebul, taburan parutan kelapa yang gurih, masih aku tambah sepucuk sendok gula pasir, hmmmm… rasanyaaa…. endaaang bambaaaang. (translate: endang bambang = uenak byanget)

*sebentar ya, aku mau ambil tiwulnya dulu. Baru mateng. (tengok jam di dinding 04:24)

Ini penampakannya.

DSC02685

Ibu biasanya menjajakan tiwulnya dengan dibungkusi daun pisang dan dihargai lima ratus rupiah. Masih aja eksis dagangan seharga limaratusan ya? Maklum ibu biasa berjualan di area kampung sekitar rumah. Gawok adalah negeri yang masih asri penuh dengan pepohonan dan persawahan serta beberapa pabrik dan perumahan. Jadi masih sangat mungkin ditemukan jajanan murah. Kalo dijual mahal-mahal nggak laku, bo!

Selain ibuku, sekarang kita bisa lebih mudah menemukan si tiwul manis ini di area car free day, Sunday morning UNS, Manahan Sunday Market (jik enek ora yo?), dan di daerah Butulan Makam Haji (Dari Solo turun di underpass, belok kiri ke arah Gawok, di tikungan pertama ada dua gerobak penjual tiwul dan kawan-kawannya macam cenil, gethuk, klepon, sawut dll). Pernah beli di situ, harganya murah koq. Tinggal bilang: “Bu, tumbas niki, niki, niki, gangsal ewu.” Mengulurkan selembar lima ribuan sambil tunjuk aneka jajanan lawas.

Tiwul itu beneran penganan tempoe doeloe. Bapakku pernah cerita, jaman masih penjajahan Jepang, tiwul menjadi makanan sehari-hari. Adanya di kebon cuma singkong, jemur, tumbuk dan jadilah tiwul pengganti nasi. Kali terakhir aku makan tiwul itu juga dapet oleh-oleh dari mertua mbakyu yang tinggal di pegunungan Sempor, dan tiwul nasi bukan tiwul manis. Tentang tiwul nasi, jadi ingat sama teman kantorku yang berasal dari Weru Sukoharjo. Konon di sana juga masih ada yang makan tiwul nasi.

Noh, eksis banget ya si tiwul. Bener-bener lintas zaman walaupun keberadaannya sudah mulai terancam kepunahannya.  Sepertinya perlu ada suaka marga jajanan untuk menyelamatkan keberadaan jajanan tempo dahulu.  Hhmmm, jadi pengen bikin resto yang menunya jajanan jadul. *ngimpi siik…

Jadi, pesan sponsornya, mari kita lestarikan bumi kita, meliputi alam, hewan, tumbuhan, budaya dan tentu saja makanan. hihihi…

Rainbow Cake suka-suka

(poto menyusul yaa…)

Banyak resep rainbowcake beredar di rumah simbah Gugel. Dari beberapa resep yang aku coba, rasanya ada yang tertinggal di lidah. maklum, sebagai wong ndeso, jika ada sesuatu yang gak beres maka akan ada yang ketinggalan di lidah atau tenggorokan.
So, coba modif resep sak karepe dewe.
Here, we go.

Bahan:
200 gr gula pasir
250 gr tepung terigu
4 buah telur ayam
70 gram WCC (White Compound Cokelat)
2 sendok sayur minyak goreng (kalo mau margarin katanya oke-oke wae)
100 ml susu UHT (pakai SKM atau susu bubuk juga gpp)
pewarna makanan (merah, kuning, hijau, biru, ungu)
sp dan bp secukupnya (tidak pakai juga gpp)
garam dan vanili secukupnya

how to:
1. Siapkan loyang yang telah dialasi kertas roti. Oleskan minyak di dasar loyang agar kertas roti tidak bergeser. Loyang bagian samping tidak usah dioles minyak, agar adonan bisa pegangan dan tidak kempes. Resikonya ya nanti kalo udah mateng pakai acara ekrek-ekrek ngiris pinggir cake dulu. *sabar yaa..
2. Ayak tepung terigu, vanili dan bp (fungsi diayak biar gak ada yang menggumpal)
3. Lelehkan WCC dengan minyak goreng dengan cara ditim (biar cepet leleh, WCC disisir tipis-tipis dulu)
4. Panaskan panci kukusan, jangan lupa alasi tutup dengan serbet bersih agar uap air tidak menetes di adonan.
5. Mixer gula, telur, sp, garam dengan kecepatan tinggi sampai putih berjejak.
6. Turunkan kecepatan ke angka paling rendah, masukkan tepung terigu, bp dan vanili.
7. Masukkan WCC yang telah dilelehkan dan susu cair.
8. Bagi adonan dalam lima bagian sama banyak.
9. Ambil satu bagian, campurkan pewarna merah. 4-5 tetes. Aduk rata. Masukkan ke loyang. Ratakan.
10. Kukus 5- 10 menit (*aku lima menit berani)
11. Sembari menunggu kukusan layer pertama, ambil adonan dan beri warna kuning. Masukkan ke loyang di atas layer pertama.
12. Begitu selanjutnya sampai adonan habis.
13. Kukus semua layer selama 20 menit. Lakukan tes tusuk untuk memastikan cake sudah matang.
14. Potong-potong, sajikan

Nb:  Sp aku pakai ovalet kupu-kupu, Bp juga pakai baking powder kupu-kupu.

Hadiah Pertama dari Menulis

Menulis menjadi salah satu kebiasaan baruku. Dulu sempet jadi penulis amatiran. Maklum sebagai sekretaris redaksi majalah kampus, kalau pas ada naskah yang bolong ya kejatah nulis. Maka dimulailah pengembaraan dalam dunia tulis menulis. Sebenarnya dari SMP sudah mulai suka menulis, mading misalnya. SMA juga mencoba per-eksis-an di dunia mading. Untuk masuk ke dalam jajaran redaksional masih belum cukup keberanian. Jadilah aku hanya menjadi tim penggembira mading saja. *yang penting gembira

Masa kuliah adalah masa menyerap aneka macam ilmu. Dari ilmu perkuliahan, ilmu ngomong, ilmu membaca dan tentunya ilmu menulis. Maka dengan segenap keberanian aku mengajukan diri menjadi bagian dari buletin organisasi di fakultas. Merasa diri tidak mempunyai ilmu yang mumpuni, maka “bersekolah minggu” menjadi keinginanku. Dan baru terwujud saat kuliahku masuk semester lima. Sekolah minggu ini istilah yang aku buat untuk kegiatan pelatihan kepenulisan yang diampu oleh FLP Solo. Ya, itung-itung kenalan sama penulis-penulis senior Solo dan menambah teman. *nggak mau rugi lah

Oiya, Aku kuliah di jurusan matematika. Jadinya agak menyimpang jika selanjutnya aku jatuh cinta pada dunia kepenulisan. Mungkin efek dari mabok nulis rumus, jadi nulis kata-kata aku gunakan sebagai hiburan, biar kepala nggak ngebul. Hihihi…

Berkutat dengan skripsi membuatku menjauh dari dunia tulis menulis fiksi. Kemudian mendamparkan diri di penerbit buku pelajaran membuatku semakin jauh dari dunia merangkai kata-kata bermajas. Hingga akhirnya aku menemukan dunia baru di…. di…. di… Fesbuk.

Ya, fesbuk. Ada grup emak-emak yang bikin lomba menulis. Dan entah kenapa, adrenalinku mendadak kembali membara. Lalu aku rangkaikan beberapa kisah tentang kehidupanku tepat sehari menjelang deadline. Inilah the power of kepepet. Tidak mengincar hadiah, hanya ingin kembali menggoreskan penaku di dunia tulis menulis. Melepaskan kungkungan huruf-huruf dari kepalaku.

Tidak disangka, dari empat naskah, kesemuanya masuk dalam nilai yang memuaskan. Dan salah satu tulisanku mendapat urutan nomor tiga. Dan sebulan kemudian bungkusan kado cokelat yang dilewatkan pengiriman ekpedisi terkenal mampir ke kantorku. Dan hadiahnya buanyaaaak….

DSC00263

  • Ada daster besar, aku persembahkan untuk ibu mertuaku.
  • Ada bros-bros, aku serahkan kepada keponakan-keponakanku
  • Ada bantal donat, anakku girang sekali
  • Ada dompet, jilbab-jilbab, daster seksi untukku sendiri.

Aku tidak mengira, geliat pertamaku di dunia tulis menulis menghantarkan beberapa hadiah yang biasa aku  pakai dan bisa aku bagi dengan keluargaku. Dan yang terpenting, aku menjadi semakin semangat untuk belajar dan belajar menulis kembali. Menulis blog menjadi salah satu sasaranku. Setelah 3 tahun mangkrak, akhirnya si blog tersenyum menyambutku kembali.

Dari Fesbuk juga aku menemukan rumah baru, rumah Ibu-Ibu Doyan Nulis, Writing Training Center, WSC, dll. Berkomunitas dengan ibu-ibu yang suka menulis juga membangkitkan gairah menulisku sendiri. Dimanapun kita tetap bisa belajar.

Mari kembali menulis…

banner_pungky

Kado untuk (mantan) Kekasihku

Membuat kado? Saya suka… saya suka…

Tapi koq saya jarang dikasih kado ya? *ngarep

Aku punya hobi koleksi kertas kado. Aku belum tahu mau kasih kado ke siapa, tapi kertas kadonya sudah aku siapkan. Hihihi.. enggak deng. Aku memang suka kertas kado yang warna-warni itu. Entah kenapa itu kertas kado di setiap toko koq melambai-lambai minta aku bawa pulang. Jadi deh aku kolektor kertas kado. Pun akhirnya kertas kado itu ludes tak bersisa. Tapi aku segera beli lagi dan beli lagi. *mulai bulan besok kesenengan ini harus disetop. Uangnya dialihkan buat beli bawang merah dan bawang putih.

Seseorang yang paling sering dapet kado dari aku adalah yang paling spesial. Tapi bukan simbok dan bapakku. Habis simbokku paling anti dikado-kado. Koyo cah enom wae. Simbok maunya mentahnya saja alias duit duit duit. Hihihi…

Jadi yang paling sering dapet kado adalah kekasihku. Eh, sekarang sudah jadi mantan pacar. Sekarang berganti ke suamiku lah. Tapi jarang-jarang ding ngasih kado ke suami, wong suamiku juga jarang kasih aku kado. *oalah, jadi orang koq dendaman 😀

Oke, aku mau berkisah tentang kado spesial buat kekasihku eh mantan kekasihku.

Kekasihku itu orangnya tampan, rupawan dan dermawan. Kurang apa coba? Kurang jodoh lah. Buktinya sekarang aku nggak berjodoh dengan si kekasih. Dari banyak kado buat kekasihku, ada satu kado yang aku seneeeeeeeng bgt ngasihnya. *tapi nggak tau kekasihku seneng apa nggak. Pas dibuka sih, katanya sih terharu gitu deh.

Mau tau apa kadonya?

Ulang tahun kekasihku itu bulan Januari. Jadi tiap akhir tahun aku udah kemut-kemut mikir ngasih kado apa buat kekasihku. Tas udah, jam sudah pernah, sandal, baju, sepatu, jaket, tempat minum, hape, dan banyak barang-barang lain sudah pernah aku kasih. Bosen lah ngasih barang-barang. Kali ini harus ngasih sesuatu yang beda dari biasanya. *sebenarnya karena pengen ngirit. Uangnya ditabung buat persiapan merit.

Lalu aku kumpulkan foto-foto berdua dengan si kekasih. Buka CorelDraw. Ukur ini, ukur itu. Print Preview, benerin lagi, baru diprint setelah yakin beres. Lalu potong ini, potong itu dan taraaaaaaaaa…. Jadilah kalender meja dengan wajah aku dan kekasihku sebagai modelnya. Wkwkwk, model kalender. *sssttt… ambil dari kalender meja tahun lama dimodif dan jadilah kalender baru. Kreatif to aku…

Mosok kado cuma kalender?

Lanjut kumpulkan foto-foto sepanjang perjalanan 5 tahun kebersamaan kami. Kumpulkan dalam satu folder, bikin desain Powerpoint (*flash nggak bisa sih). Lanjut cari lagu yang pas, aku nemu lagu Seventeen: Aku Percaya Kamu. Klik Klak Klik, masukkan fotonya, tuliskan kata-kata mesra, mainkan animasinya, percantik desainnya dan terakhir bikin jadi ekstensi *ppsx. Oke, burning dalam CD.

Sudah siap, bungkuuuuusss…

Kekasihku ada di kota Jogja, 85 km dari kotaku. Bagaimana ini? Pakai jasa pengiriman seperti biasanya? Mmmm… Karena tema kali ini antimainstream. Maka aku memilih jasa pengiriman paling mutakhir. Aku sendiri. Hihihi…

Perjalanan Solo- Jogja aku tempuh dengan bermotor ria. Adu balap dengan para cowok-cowok yang kemaki yak-yakan di jalan. Emangnya cewek nggak bisa balapan apa, ayo buktikan. Tips cari musuh balapan di jalan hanya salah satu ideku biar nggak boring di perjalanan. Padahal nggak saling kenal, asyik saja saling kebut-mengebut di jalanan ibu kota eh jalan Solo-Jogja.

Aku sapa ibu kost yang sedang menyapu di depan rumah, ibu kost mempersilahkan aku menuju tempat kekasihku. Tenaaang… kost kekasihku itu gabung dengan ibu kost. Jadinya amaaaan. Kau mau tahu apa yang sedang dilakukan kekasihku? Tidur. Hahaha, dia memang hobi tidur. Sudah dibela-belani kasih surprise dengan datang tanpa pemberitahuan, eh disambut dengan muka lecek bangun tidur. Nasiib… nasiiib…

Sebagai ungkapan terimakasihnya, aku diajak makan di warung favorit kami. Warung spesial sambal belakang UGM. Hihihi… sudah ya, pedes nih. Nasi panas, telur gobal-gabul dan es jeruk nipis memang jos markojooss…

Nb: Kisah masa lalu, hanya untuk dikenang, dan segera terlupakan.

GIVE-AWAY-KADO-TERINDAH