[Cerita Hijab Pertamaku] Rambut awut-awutan? Pakai Jilbab saja!

Digital image

 (Bersama Teman di Tawangmangu -2011 )

Suer, kali pertama niat yang terpikirkan dari kata jilbab adalah buat nutupi rambut yang awut-awutan dan susah diatur ini. Kala itu diriku masih awal-awal berseragam abu-abu. Rasa keren memakai segaram sekolah baru hanya berlangsung sekejap. Perjalanan dari rumah menuju sekolah hampir satu jam, dari berjalan kaki dari rumah ke jalan raya, naik bis dan berjalan lagi dari terminal ke sekolah. Tentu saja membuat penampilanku lusuh apalagi rambut yang gampang sekali berantakan.

Beberapa teman membawa sisir, bedak dan lipbalm di tas sekolah mereka. Bagaimana dengan aku? No, way! Aku bukan wanita pesolek. Tidak dandan saja aku sudah cantik, kalau dandan bisa-bisa banyak yang kepincut dengan diriku ini (*bohong). Bukan, bukan begitu. Aku memang tidak suka berdandan. Keinginan bapak punya anak laki-laki ternyata berefek ke kepribadianku, juga penampilanku.

Satu permasalahan yang bikin aku gedeg adalah rambutku yang super duper lurus susah diatur ini. Apalagi simbokku penganut paham “Jika bisa dilakukan sendiri kenapa mesti keluar uang” jadilah setiap potong rambut, ibuku yang menjadi juru potong rambut. Dan tentu saja modelnya sesuka hati simbokku. Dan nggak gaul banget. *hihihi…

ROHIS sekolahku ada program jilbabisasi, itu tuh program buat bantu siswa yang pengen berjilbab tapi belum ada dana.  Sebenarnya minta uang ke simbokku bisa, tapi aku sudah kadung beli seragam pendek jadi pastinya simbokku akan menolak. Jadilah aku mendaftar ke mbak-mbak Rohis ikut program keren itu. Aku masih ingat saat itu, tahun 1999, aku dapet uang 50ribu, baju seragam pantas pakai dan beberapa jilbab sumbangan dari donatur.

Daaan dengan berjilbab, masalah rambutku selesai!

Nggak perlu sisiran langsung iket ini rambut, lalu pakai jilbabnya. Beres dan cantik!

Ssssstttt.. aku pakai jilbab saat ke sekolah saja. Sampai rumah lepas jilbab dan kembali dengan seragam harian: kaos pendek dan celana pendek . Soalnya tiap hari aku ke kebun, nggak keren kan ke kebun pakai rok? *alasan😀

Sampai ada satu kejadian yang bikin aku maluuuu banget.

Aku punya guru yang masih satu kecamatan denganku. Pak guru yang tampan itu ternyata sering main voli di desaku. Saat itu aku sedang belanja di warung deket lapangan. Dan tararaaa… bertemulah dengan pak guru. Mau tau komentarnya?

“Pak guru pangling, biasanya pakai jilbab koq ini nggak pakai. Cantik pakai jilbab lah. Dipakai ya jilbabnya.” Rasanya pengen lari lalu ngumpet di dasar kali dan nggak nongol sampai pak guru pulang voli lalu aku pindah sekolah ke Jakarta *lebay!

Setelah kejadian itu, aku memulai era baru berjilbab dengan benar. Memakai jilbab tidak hanya di sekolah saja. Membenahi pola pakaian, pola tingkah laku, pola bicara dan tentu saja pola pikir sebagai seorang muslimah. Walau tomboynya tetep nggak bisa hilang. *maklum bawaan orok

Karena ikut program Rohis, aku juga sering diajak pengajian di masjid sekolah dan ikut kegiatan-kegiatan Rohis. Sampai menjadi anggota Rohis dan ikut membantu kegiatan keislaman di tingkat sekolah. Dan semakin banyak belajar tentang berjilbab, maka semakin mantap menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah. Menutup aurat.

Berjilbab adalah wajib bagi semua muslimah, dan khusus untukku berbonus nggak repot merapikan rambutku yang awut-awutan.

Alhamdulillah…

 

Artikel ini diikutsertakan  dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway” 

GA jilbab

Tiwul, Penganan Lintas Zaman

Hai teman-temanku yang manis, aku mau berkisah tentang tiwul, nih. Simak yaa…

Pada zamaaaan dahuuuluuuu… (*maap, kebanyakan nonton pilem kartun)

Dulu di sini sudah pernah aku postingkan mengenai tiwul. Silakan dah diubek-ubek postingan lama tentang si Tiwul. Kali ini masih pengen mengangkat tema dunia persilatan pertiwulan.

Aku kenal tiwul ya di Solo. Kalau di daerahku, negeri kebumen sana, namanya bukan tiwul, tetapi inthil. Nama yang lucu ya. Apapun namanya, bahan dan cara pembuatannya sama. Dan tentu saja sama-sama enak. Saking kangennya sama tiwul, bau semerbak bunga kuning pohon Angsana yang gugur di negeri UNS bisa-bisanya beraroma tiwul (ada yang salah dengan ini hidungku kali ya?). Benar-benar menjadikanku semakin merindukan tiwul, makanan yang sudah belasan tahun aku tidak melahapnya. Terakhir aku menikmatinya saat masih SMP (saat masih puber) sampe sekarang sudah SMT (semi tuwo). Hihihi…

Eits, tunggu dulu. Aku belum mengisahkan kenapa aku mengambil kisah tentang si tiwul ini. Jadi, ceritanya, aku tuh sukaaaa banget sama tiwul. Dan kebetulan ibu mertuaku beberapa bulan yang lalu mulai menambah dagangannya yaitu si tiwul manis. Kebayang dong rasanya makan tiwul anget-anget yang baru diangkat dari panci kukusan. Uapnya masih ada kebul-kebul, taburan parutan kelapa yang gurih, masih aku tambah sepucuk sendok gula pasir, hmmmm… rasanyaaa…. endaaang bambaaaang. (translate: endang bambang = uenak byanget)

*sebentar ya, aku mau ambil tiwulnya dulu. Baru mateng. (tengok jam di dinding 04:24)

Ini penampakannya.

DSC02685

Ibu biasanya menjajakan tiwulnya dengan dibungkusi daun pisang dan dihargai lima ratus rupiah. Masih aja eksis dagangan seharga limaratusan ya? Maklum ibu biasa berjualan di area kampung sekitar rumah. Gawok adalah negeri yang masih asri penuh dengan pepohonan dan persawahan serta beberapa pabrik dan perumahan. Jadi masih sangat mungkin ditemukan jajanan murah. Kalo dijual mahal-mahal nggak laku, bo!

Selain ibuku, sekarang kita bisa lebih mudah menemukan si tiwul manis ini di area car free day, Sunday morning UNS, Manahan Sunday Market (jik enek ora yo?), dan di daerah Butulan Makam Haji (Dari Solo turun di underpass, belok kiri ke arah Gawok, di tikungan pertama ada dua gerobak penjual tiwul dan kawan-kawannya macam cenil, gethuk, klepon, sawut dll). Pernah beli di situ, harganya murah koq. Tinggal bilang: “Bu, tumbas niki, niki, niki, gangsal ewu.” Mengulurkan selembar lima ribuan sambil tunjuk aneka jajanan lawas.

Tiwul itu beneran penganan tempoe doeloe. Bapakku pernah cerita, jaman masih penjajahan Jepang, tiwul menjadi makanan sehari-hari. Adanya di kebon cuma singkong, jemur, tumbuk dan jadilah tiwul pengganti nasi. Kali terakhir aku makan tiwul itu juga dapet oleh-oleh dari mertua mbakyu yang tinggal di pegunungan Sempor, dan tiwul nasi bukan tiwul manis. Tentang tiwul nasi, jadi ingat sama teman kantorku yang berasal dari Weru Sukoharjo. Konon di sana juga masih ada yang makan tiwul nasi.

Noh, eksis banget ya si tiwul. Bener-bener lintas zaman walaupun keberadaannya sudah mulai terancam kepunahannya.  Sepertinya perlu ada suaka marga jajanan untuk menyelamatkan keberadaan jajanan tempo dahulu.  Hhmmm, jadi pengen bikin resto yang menunya jajanan jadul. *ngimpi siik…

Jadi, pesan sponsornya, mari kita lestarikan bumi kita, meliputi alam, hewan, tumbuhan, budaya dan tentu saja makanan. hihihi…

Rainbow Cake suka-suka

(poto menyusul yaa…)

Banyak resep rainbowcake beredar di rumah simbah Gugel. Dari beberapa resep yang aku coba, rasanya ada yang tertinggal di lidah. maklum, sebagai wong ndeso, jika ada sesuatu yang gak beres maka akan ada yang ketinggalan di lidah atau tenggorokan.
So, coba modif resep sak karepe dewe.
Here, we go.

Bahan:
200 gr gula pasir
250 gr tepung terigu
4 buah telur ayam
70 gram WCC (White Compound Cokelat)
2 sendok sayur minyak goreng (kalo mau margarin katanya oke-oke wae)
100 ml susu UHT (pakai SKM atau susu bubuk juga gpp)
pewarna makanan (merah, kuning, hijau, biru, ungu)
sp dan bp secukupnya (tidak pakai juga gpp)
garam dan vanili secukupnya

how to:
1. Siapkan loyang yang telah dialasi kertas roti. Oleskan minyak di dasar loyang agar kertas roti tidak bergeser. Loyang bagian samping tidak usah dioles minyak, agar adonan bisa pegangan dan tidak kempes. Resikonya ya nanti kalo udah mateng pakai acara ekrek-ekrek ngiris pinggir cake dulu. *sabar yaa..
2. Ayak tepung terigu, vanili dan bp (fungsi diayak biar gak ada yang menggumpal)
3. Lelehkan WCC dengan minyak goreng dengan cara ditim (biar cepet leleh, WCC disisir tipis-tipis dulu)
4. Panaskan panci kukusan, jangan lupa alasi tutup dengan serbet bersih agar uap air tidak menetes di adonan.
5. Mixer gula, telur, sp, garam dengan kecepatan tinggi sampai putih berjejak.
6. Turunkan kecepatan ke angka paling rendah, masukkan tepung terigu, bp dan vanili.
7. Masukkan WCC yang telah dilelehkan dan susu cair.
8. Bagi adonan dalam lima bagian sama banyak.
9. Ambil satu bagian, campurkan pewarna merah. 4-5 tetes. Aduk rata. Masukkan ke loyang. Ratakan.
10. Kukus 5- 10 menit (*aku lima menit berani)
11. Sembari menunggu kukusan layer pertama, ambil adonan dan beri warna kuning. Masukkan ke loyang di atas layer pertama.
12. Begitu selanjutnya sampai adonan habis.
13. Kukus semua layer selama 20 menit. Lakukan tes tusuk untuk memastikan cake sudah matang.
14. Potong-potong, sajikan

Nb:  Sp aku pakai ovalet kupu-kupu, Bp juga pakai baking powder kupu-kupu.

Hadiah Pertama dari Menulis

Menulis menjadi salah satu kebiasaan baruku. Dulu sempet jadi penulis amatiran. Maklum sebagai sekretaris redaksi majalah kampus, kalau pas ada naskah yang bolong ya kejatah nulis. Maka dimulailah pengembaraan dalam dunia tulis menulis. Sebenarnya dari SMP sudah mulai suka menulis, mading misalnya. SMA juga mencoba per-eksis-an di dunia mading. Untuk masuk ke dalam jajaran redaksional masih belum cukup keberanian. Jadilah aku hanya menjadi tim penggembira mading saja. *yang penting gembira

Masa kuliah adalah masa menyerap aneka macam ilmu. Dari ilmu perkuliahan, ilmu ngomong, ilmu membaca dan tentunya ilmu menulis. Maka dengan segenap keberanian aku mengajukan diri menjadi bagian dari buletin organisasi di fakultas. Merasa diri tidak mempunyai ilmu yang mumpuni, maka “bersekolah minggu” menjadi keinginanku. Dan baru terwujud saat kuliahku masuk semester lima. Sekolah minggu ini istilah yang aku buat untuk kegiatan pelatihan kepenulisan yang diampu oleh FLP Solo. Ya, itung-itung kenalan sama penulis-penulis senior Solo dan menambah teman. *nggak mau rugi lah

Oiya, Aku kuliah di jurusan matematika. Jadinya agak menyimpang jika selanjutnya aku jatuh cinta pada dunia kepenulisan. Mungkin efek dari mabok nulis rumus, jadi nulis kata-kata aku gunakan sebagai hiburan, biar kepala nggak ngebul. Hihihi…

Berkutat dengan skripsi membuatku menjauh dari dunia tulis menulis fiksi. Kemudian mendamparkan diri di penerbit buku pelajaran membuatku semakin jauh dari dunia merangkai kata-kata bermajas. Hingga akhirnya aku menemukan dunia baru di…. di…. di… Fesbuk.

Ya, fesbuk. Ada grup emak-emak yang bikin lomba menulis. Dan entah kenapa, adrenalinku mendadak kembali membara. Lalu aku rangkaikan beberapa kisah tentang kehidupanku tepat sehari menjelang deadline. Inilah the power of kepepet. Tidak mengincar hadiah, hanya ingin kembali menggoreskan penaku di dunia tulis menulis. Melepaskan kungkungan huruf-huruf dari kepalaku.

Tidak disangka, dari empat naskah, kesemuanya masuk dalam nilai yang memuaskan. Dan salah satu tulisanku mendapat urutan nomor tiga. Dan sebulan kemudian bungkusan kado cokelat yang dilewatkan pengiriman ekpedisi terkenal mampir ke kantorku. Dan hadiahnya buanyaaaak….

DSC00263

  • Ada daster besar, aku persembahkan untuk ibu mertuaku.
  • Ada bros-bros, aku serahkan kepada keponakan-keponakanku
  • Ada bantal donat, anakku girang sekali
  • Ada dompet, jilbab-jilbab, daster seksi untukku sendiri.

Aku tidak mengira, geliat pertamaku di dunia tulis menulis menghantarkan beberapa hadiah yang biasa aku  pakai dan bisa aku bagi dengan keluargaku. Dan yang terpenting, aku menjadi semakin semangat untuk belajar dan belajar menulis kembali. Menulis blog menjadi salah satu sasaranku. Setelah 3 tahun mangkrak, akhirnya si blog tersenyum menyambutku kembali.

Dari Fesbuk juga aku menemukan rumah baru, rumah Ibu-Ibu Doyan Nulis, Writing Training Center, WSC, dll. Berkomunitas dengan ibu-ibu yang suka menulis juga membangkitkan gairah menulisku sendiri. Dimanapun kita tetap bisa belajar.

Mari kembali menulis…

banner_pungky

Kado untuk (mantan) Kekasihku

Membuat kado? Saya suka… saya suka…

Tapi koq saya jarang dikasih kado ya? *ngarep

Aku punya hobi koleksi kertas kado. Aku belum tahu mau kasih kado ke siapa, tapi kertas kadonya sudah aku siapkan. Hihihi.. enggak deng. Aku memang suka kertas kado yang warna-warni itu. Entah kenapa itu kertas kado di setiap toko koq melambai-lambai minta aku bawa pulang. Jadi deh aku kolektor kertas kado. Pun akhirnya kertas kado itu ludes tak bersisa. Tapi aku segera beli lagi dan beli lagi. *mulai bulan besok kesenengan ini harus disetop. Uangnya dialihkan buat beli bawang merah dan bawang putih.

Seseorang yang paling sering dapet kado dari aku adalah yang paling spesial. Tapi bukan simbok dan bapakku. Habis simbokku paling anti dikado-kado. Koyo cah enom wae. Simbok maunya mentahnya saja alias duit duit duit. Hihihi…

Jadi yang paling sering dapet kado adalah kekasihku. Eh, sekarang sudah jadi mantan pacar. Sekarang berganti ke suamiku lah. Tapi jarang-jarang ding ngasih kado ke suami, wong suamiku juga jarang kasih aku kado. *oalah, jadi orang koq dendaman😀

Oke, aku mau berkisah tentang kado spesial buat kekasihku eh mantan kekasihku.

Kekasihku itu orangnya tampan, rupawan dan dermawan. Kurang apa coba? Kurang jodoh lah. Buktinya sekarang aku nggak berjodoh dengan si kekasih. Dari banyak kado buat kekasihku, ada satu kado yang aku seneeeeeeeng bgt ngasihnya. *tapi nggak tau kekasihku seneng apa nggak. Pas dibuka sih, katanya sih terharu gitu deh.

Mau tau apa kadonya?

Ulang tahun kekasihku itu bulan Januari. Jadi tiap akhir tahun aku udah kemut-kemut mikir ngasih kado apa buat kekasihku. Tas udah, jam sudah pernah, sandal, baju, sepatu, jaket, tempat minum, hape, dan banyak barang-barang lain sudah pernah aku kasih. Bosen lah ngasih barang-barang. Kali ini harus ngasih sesuatu yang beda dari biasanya. *sebenarnya karena pengen ngirit. Uangnya ditabung buat persiapan merit.

Lalu aku kumpulkan foto-foto berdua dengan si kekasih. Buka CorelDraw. Ukur ini, ukur itu. Print Preview, benerin lagi, baru diprint setelah yakin beres. Lalu potong ini, potong itu dan taraaaaaaaaa…. Jadilah kalender meja dengan wajah aku dan kekasihku sebagai modelnya. Wkwkwk, model kalender. *sssttt… ambil dari kalender meja tahun lama dimodif dan jadilah kalender baru. Kreatif to aku…

Mosok kado cuma kalender?

Lanjut kumpulkan foto-foto sepanjang perjalanan 5 tahun kebersamaan kami. Kumpulkan dalam satu folder, bikin desain Powerpoint (*flash nggak bisa sih). Lanjut cari lagu yang pas, aku nemu lagu Seventeen: Aku Percaya Kamu. Klik Klak Klik, masukkan fotonya, tuliskan kata-kata mesra, mainkan animasinya, percantik desainnya dan terakhir bikin jadi ekstensi *ppsx. Oke, burning dalam CD.

Sudah siap, bungkuuuuusss…

Kekasihku ada di kota Jogja, 85 km dari kotaku. Bagaimana ini? Pakai jasa pengiriman seperti biasanya? Mmmm… Karena tema kali ini antimainstream. Maka aku memilih jasa pengiriman paling mutakhir. Aku sendiri. Hihihi…

Perjalanan Solo- Jogja aku tempuh dengan bermotor ria. Adu balap dengan para cowok-cowok yang kemaki yak-yakan di jalan. Emangnya cewek nggak bisa balapan apa, ayo buktikan. Tips cari musuh balapan di jalan hanya salah satu ideku biar nggak boring di perjalanan. Padahal nggak saling kenal, asyik saja saling kebut-mengebut di jalanan ibu kota eh jalan Solo-Jogja.

Aku sapa ibu kost yang sedang menyapu di depan rumah, ibu kost mempersilahkan aku menuju tempat kekasihku. Tenaaang… kost kekasihku itu gabung dengan ibu kost. Jadinya amaaaan. Kau mau tahu apa yang sedang dilakukan kekasihku? Tidur. Hahaha, dia memang hobi tidur. Sudah dibela-belani kasih surprise dengan datang tanpa pemberitahuan, eh disambut dengan muka lecek bangun tidur. Nasiib… nasiiib…

Sebagai ungkapan terimakasihnya, aku diajak makan di warung favorit kami. Warung spesial sambal belakang UGM. Hihihi… sudah ya, pedes nih. Nasi panas, telur gobal-gabul dan es jeruk nipis memang jos markojooss…

Nb: Kisah masa lalu, hanya untuk dikenang, dan segera terlupakan.

GIVE-AWAY-KADO-TERINDAH

Menghapus Delta Search di New Tab Mozilla Firefox

Siang yang sumuk ini paling asyik leyeh-leyeh di depan kipas angin sambil nyawang gaweyan di monitor kantor. Tiba-tiba datanglah mbak Anis yang manis menghampiriku.

“Ul, Firefox-ku njedul Delta-deltane.” Keluh Mbak Anis.

“Lha bar mbok instali opo mbak?”

“Ora taq apak2ke, suwer. tapi wingi bar dinggo Mas Doni”

Yowis, akhirnya saya yang sebenarnya tidak tau asal muasalnya itu kenapa, demi nglegani mbak Anis, aku beranjak dari kursiku yang tidak empuk menuju komputernya. Sambil berpura-pura sok tau aku klik sana sini. Cek settingan Firefox,  cek Add On, cek Control Panel, tetep itu Delta nggondeli Firefox.

“Neknu di-install ulang wae mbak Firefox-e” kataku pasrah.

“Diinstalke sisan ya, Ul. Aku ora mudeng” Halllah..

Ambil master Firefox di server dilanjutkan dengan menguninstal dan menginstal kembali. Klak klik klak klik klak klik

dan taraaaaaaaaaaaa…..

TIDAK BERHASIL

yowislah, mangkat ke rumah simbah dulu. ternyata ada banyak yang sudah ketemu sama si delta-delta ini. Salahsatunya dari http://info.delta-search.com/uninstall/firefox. Oke, print wae langkah-langkahnya. Mbak Anis masih setia menungguku. dan merelakan tisyunya aku ambil terus-terusan buat lap hidung gatel. *maap mbak, masih meler dan batuk ini.

Lanjut mbersihi delta-delta.

1. Pastikan segala sesuatu yang berbau delta-delta telah musnah dari muka bumi, eh, dari komputer maksudku. Cek di Control Panel dan pengaturan firefox. *done

2. Selanjutkan bersihkan delta-delta homepage dengan langkah-langkah sbb. *kopas wae

  1. Open Mozilla Firefox
  2. From the Firefox orange button (or from the standard Tools menu), select Options.
  3. In the General tab, delete the Delta URL from the Home page text box.
  4. Click OK to save the changes.
  5. Type: about:config in the address bar and press enter
  6. Confirm the message.
  7. Type: browser.newtab.url in the Search text field
  8. Right click on the result and select Toggle (or Reset in older versions)

3. cek New Tab.

Berhasil.

Oiya, delta-delta ini ngisruh2i di bagian toolbar, homepage, search dan lain-lain. Jadi tampilan default yang sudah kita atur di setting firefox dulu akan berganti dengan delta-delta.

*postingan ini hanya untuk mengingat-ingat jika kelak nemu delta-delta yang lain.

NIkmatnya Hamil Berbonus Kista

a

Didiagnosa ada kista berdiameter 6,7 cm di USG pertama kehamilan pasti akan membuat siapa saja terkejut. Termasuk aku. Ya, saat sore itu aku berkunjung ke dokter kandungan untuk meyakinkan diri bahwa aku memang hamil. Benar, aku hamil. Ada kantung janin bersemayam di perutku. Dan dokter memberiku bonus kista sebesar itu. Aku tidak pernah menyadari ada bola kecil tumbuh di tubuhku. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya atau aku mengabaikannya karena terlalu sibuk bergelut dengan waktu dan pekerjaan.

Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kuasaku menerimanya. Kepercayaan kepada-Nya memberikan secercah keyakinan dan kekuatan.  Aku dan anakku pasti bisa bersama melawan kista. Hanya saja impian melahirkan normal sudah sirna, dokter dan bidan tidak berani bertaruh dengan nyawa anakku dan nyawaku sendiri.

Kista terus dipantau selama kehamilan. Sayangnya di trimester kedua, kista bersembunyi di belakang janin. Beruntung kata dokter, kista tidak mempengaruhi perkembangan janinku. Hanya saja saat si kecil menendang, ada kalanya terasa sangat nyeri. Mungkin si kecil menemukan bolanya di dalam sana.

Masuk usia kehamilan 8 bulan, baju-baju dan perlengkapan bayi sudah aku beli. Cuti hamil masih belum aku ajukan. Pekerjaan kantor masih menumpuk, aku tidak mau meninggalkan beban untuk rekan-rekanku. Aku masih lembur sampai senja menjelang.

Juga sore itu.

Jam enam sore aku baru keluar dari kantorku. Pulang naik motor sendiri masih akrab denganku. Dengan ekstra hati-hati tentunya. Sesampainya di rumah, aku temui ada flek saat aku mandi. Ah, mungkin hanya kecapekan. Tapi, suami segera memintaku periksa ke bidan. Setelah maghrib kami mendapat berita  yang membuat suami melongo. Sudah pembukaan 1.  Padahal usia kehamilan baru 8 bulan, kontraksipun belum ada (*atau aku yang ndableg karena terbiasa meringis saat si kecil sedang bermain bola di perut). Bidan segera menghubungi dokter kandungan koleganya. Dan aku dirujuk ke rumah sakit tempat sang dokter berada.  Malam itu juga.

Masuk rumah sakit, suami dan mertua sibuk menurunkan bawaan. Aku melenggang santai ke UGD. Perawat melongo melihat ada ibu perut buncit masuk UGD membawa surat rujukan melahirkan untuk dirinya sendiri. Mendaftar pasienpun kulakukan sendiri, kali ini petugas pendaftaran bingung, lihat ada pasien mendaftarkan dirinya sendiri, untuk operasi pula. Beruntung suami segera datang.

Hampir tengah malam, aku didorong masuk ke ruang operasi.  Aku sudah pasrah atas kehendak-Nya. Sadar dengan kondisiku, terpikir olehku kematian akan mendatangiku. Hanya satu permintaanku, jika memang ini hari terakhir aku hidup di dunia, ijinkan aku melihat anakku sebelum nyawa lepas dari raga.

Aku masih merasai kehilangan kontrol atas separuh tubuhku, aku masih mendengar denting alat operasi dan detak suara pengukur degub jantung sampai akhirnya aku terbangun satu jam kemudian.  Perawat memberitahu bayiku berada di kamar bayi. Sehat dan montok. Alhamdulillah….

Operasi lancar, hanya saja terjadi pendarahan,  kista pecah, turunnya kadar hb dan harus segera ditransfusi darah. Kondisiku belum memungkinkan untuk menemui anakku. Baru 7 jam kemudian perawat membawa bayiku ke pandangan mataku. Biarlah orang di luar sana menghujat para ibu yang memilih SC daripada melahirkan normal. Aku tetap menjadi ibu, sama seperti ibu yang lainnya. Ibu dari anakku.